You are currently viewing Menguak Agenda di Balik Kesehatan Global 2026: Evidence, Power, Funding & The Future of Medicine

Menguak Agenda di Balik Kesehatan Global 2026: Evidence, Power, Funding & The Future of Medicine

0Shares

Isu Kesehatan Global – Ada satu pertanyaan yang menggelitik kita: Siapa sebenarnya yang menentukan arah kesehatan dunia?

Pertanyaan ini terdengar sederhana.

Tetapi semakin kita mempelajari sistem kesehatan global, semakin kita menyadari bahwa jawabannya tidak sesederhana:

“Ilmu pengetahuan.”

Di balik sebuah kebijakan kesehatan terdapat penelitian.

Di balik penelitian terdapat pendanaan.

Di balik pendanaan terdapat institusi.

Di balik institusi terdapat kepentingan.

Dan di balik semua itu ada manusia—dengan nilai, perspektif, kepentingan ekonomi, politik, dan tentu saja keterbatasan.

Maka pertanyaan yang lebih menarik bukan:

“Apakah kesehatan global dikendalikan oleh satu kelompok tertentu?”

Tetapi:

“Bagaimana uang, pendanaan penelitian, institusi, industri, filantropi, dan kekuasaan ikut membentuk apa yang kita anggap sebagai masalah kesehatan dan solusi yang dianggap layak?”

Pertanyaan ini bukan otomatis teori konspirasi.

Tetapi juga bukan alasan untuk menuduh semua institusi sebagai konspirator.

Kita perlu evidence.

Dan tulisan ini mencoba melakukan itu.

Dari Fauci, Gates, Rockefeller hingga MAHA

Pada 1 Juni 2025, saya pernah menulis artikel:

“Menguak Agenda di Balik Kesehatan Global: Dari Fauci, Gates, Rockefeller Medicine hingga Solusi MAHA dan QULBI Method.”

Artikel tersebut lahir dari kegelisahan terhadap semakin kuatnya hubungan antara:

government → research → pharmaceutical industry → philanthropy → global health policy.

Salah satu sumber yang saya bahas adalah buku Robert F. Kennedy Jr.:

The Real Anthony Fauci: Bill Gates, Big Pharma, and the Global War on Democracy and Public Health.

Buku tersebut sangat kontroversial.

Dan justru karena kontroversial, kita harus membacanya dengan cara yang benar.

Bukan:

“Kennedy Jr. menulisnya, berarti pasti benar.”

Tetapi juga bukan:

“Kennedy Jr. kontroversial, berarti semua isinya pasti salah.”

Kita harus memisahkan:

klaim → evidence → interpretasi → hipotesis.

Itulah prinsip yang saya gunakan dalam pembaruan artikel ini.

⚠️ Catatan Penting: Kritik Bukan Berarti Konspirasi

Ada perbedaan besar antara:

“Ada potensi pengaruh donor terhadap agenda kesehatan.”

dengan:

“Donor mengendalikan seluruh sistem kesehatan dunia.”

Yang pertama adalah pertanyaan ilmiah yang dapat diteliti.

Yang kedua adalah klaim besar yang membutuhkan bukti besar.

Karena itu, saya tidak ingin artikel ini menjadi propaganda:

pro-Gates, anti-Gates, pro-WHO, anti-WHO, pro-Fauci, maupun anti-Fauci.

Prinsipnya sederhana:

Jangan pilih kubu terlebih dahulu. Periksa evidence terlebih dahulu.

Gates Foundation dan WHO: Mari Mulai dari Data

Bill & Melinda Gates Foundation—yang kini disebut Gates Foundation—memang merupakan salah satu aktor finansial terbesar dalam ekosistem global health.

Ini bukan spekulasi.

WHO sendiri menjelaskan bahwa lebih dari tiga perempat pendanaannya berasal dari voluntary contributions, sedangkan assessed contributions dari negara anggota kini hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan pembiayaan. WHO juga menjelaskan bahwa hampir 10% dananya berasal dari philanthropic foundations, terutama Gates Foundation.

WHO bahkan menerbitkan laporan resmi Voluntary contributions by fund and by contributor, 2025 pada 29 Mei 2026.

Jadi pertanyaan mengenai struktur pendanaan WHO bukan sesuatu yang dibuat oleh kelompok anti-mainstream.

Datanya tersedia secara resmi.

Tetapi di sinilah kita harus berhati-hati.

Besarnya kontribusi Gates Foundation tidak otomatis membuktikan bahwa Gates “mengendalikan WHO”.

Namun besarnya dana dan sifat pendanaan yang sering kali earmarked membuat pertanyaan mengenai donor influence dan agenda-setting menjadi sangat legitimate.

WHO Sendiri Mengakui Ada Risiko Ketergantungan Donor

Ini salah satu perkembangan paling menarik pada 2026.

Dalam pidato pembukaan World Health Assembly pada 18 Mei 2026, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan bahwa pada 2017 voluntary contributions sudah mencapai sekitar 80% dari base budget WHO.

Yang lebih penting, ia mengatakan bahwa mayoritas voluntary contributions masih diarahkan secara ketat oleh donor kepada proyek dan program tertentu.

Menurut WHO, ketergantungan terhadap voluntary funding yang tidak fleksibel dari sejumlah kecil donor dapat:

  • mengurangi independensi,
  • menghambat fleksibilitas,
  • dan membuat organisasi rentan jika donor besar mengurangi atau menghentikan pendanaan.

Ini sangat penting.

Karena sekarang kita tidak perlu berkata:

“WHO dikendalikan donor.”

WHO sendiri mengakui bahwa struktur pendanaan dapat memengaruhi independensi dan fleksibilitas organisasi.

Itulah yang perlu kita diskusikan.

Penelitian BMJ: Angkanya Bahkan Lebih Menarik

Pada 2025, sebuah penelitian yang diterbitkan di BMJ Global Health melakukan analisis kuantitatif terhadap grant Gates Foundation kepada WHO sepanjang 2000–2024.

Hasilnya:

640 grant

dengan nilai total sekitar:

US$5,5 miliar

diberikan Gates Foundation kepada WHO selama periode tersebut.

Penelitian tersebut juga menemukan:

  • sekitar US$4,5 miliar atau 82,6% berfokus pada penyakit infeksi;
  • sekitar US$3,2 miliar atau 58,9% terkait polio;
  • sekitar US$2,9 miliar atau 53,3% digunakan untuk program dan proyek terkait vaksin;
  • sementara pendanaan untuk penyakit tidak menular, penguatan sistem kesehatan, dan determinan kesehatan yang lebih luas relatif jauh lebih kecil.

Bahkan penelitian tersebut mencatat Gates Foundation sebagai sumber pendanaan terbesar kedua WHO pada 2010–2023, menyumbang sekitar 9,5% pendapatan WHO dalam periode tersebut.

Sekarang kita berhenti sejenak.

Apakah angka tersebut membuktikan bahwa:

“Gates mengendalikan WHO”?

Tidak.

Tetapi apakah angka tersebut membuat pertanyaan berikut menjadi legitimate?

“Apakah pola pendanaan donor dapat ikut membentuk prioritas global health?”

Ya.

Bahkan itulah salah satu kesimpulan utama penelitian tersebut.

Yang Menarik: Semua Grant Gates kepada WHO Tersebut Earmarked

Ini bagian yang menurut saya sangat penting.

Penelitian BMJ Global Health menemukan bahwa grant Gates Foundation kepada WHO yang dianalisis tersebut earmarked untuk tujuan tertentu. Peneliti berargumen bahwa mekanisme tersebut memungkinkan donor mendukung WHO sekaligus mempertahankan kontrol yang relatif ketat mengenai penggunaan dana.

Di sinilah muncul konsep:

Agenda-setting power

Kekuasaan tidak selalu berarti:

“Saya memerintahkan organisasi melakukan X.”

Ada bentuk kekuasaan yang lebih halus:

“Saya menentukan apa yang mendapatkan sumber daya.”

Bayangkan ada 100 masalah kesehatan.

Tetapi hanya 10 yang mendapatkan pendanaan besar.

Maka 10 masalah tersebut akan lebih mudah menghasilkan:

penelitian → data → publikasi → teknologi → program → kebijakan.

Sementara 90 masalah lainnya mungkin mendapatkan perhatian jauh lebih kecil.

Bukan berarti 10 masalah tersebut tidak penting.

Pertanyaannya:

Siapa yang menentukan 10 masalah tersebut?

Gates Foundation dan GAVI

Pengaruh Gates Foundation juga terlihat jelas dalam ekosistem GAVI.

GAVI menyatakan bahwa Gates Foundation telah memberikan komitmen lebih dari US$4 miliar kepada GAVI dan memiliki permanent seat on the Gavi Board.

GAVI juga menyatakan bahwa Gates Foundation mempunyai peran teknis dan finansial dalam vaccine market shaping, termasuk aktivitas dari discovery dan development sampai delivery.

Ini bukan rahasia.

Mereka sendiri mengungkapkannya.

Sekali lagi, hal tersebut tidak membuktikan adanya konspirasi.

Namun menunjukkan bahwa Gates Foundation bukan sekadar donor pasif.

Ada:

funding → governance → expertise → market shaping → global health programs.

Dan ketika sebuah aktor mempunyai sumber daya serta posisi governance yang besar, pertanyaan tentang transparansi dan accountability justru menjadi semakin penting.

Baca Juga :  Penyebab Kanker: Kemoterapi Bisa Bangunkan Zombie Kanker? Ini Fakta Ilmiahnya!

Tetapi Kita Harus Fair kepada Gates

Di sinilah artikel kritis sering terjebak.

Jangan sampai:

“Gates mendanai vaksin.”

berubah menjadi:

“Maka vaksin pasti buruk.”

Itu bukan scientific reasoning.

Gates Foundation juga mendukung program kesehatan yang memberikan manfaat nyata, termasuk akses vaksin melalui GAVI. GAVI sendiri menjelaskan kontribusi Foundation terhadap perluasan akses vaksin dan pengembangan solusi kesehatan.

Jadi kritik yang lebih fair adalah:

Besarnya pengaruh finansial dan institusional Gates Foundation layak diteliti dan diawasi, tetapi besarnya pengaruh tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa semua program yang didukungnya buruk atau salah.

Inilah perbedaan antara:

critical thinking dengan confirmation bias.

Perkembangan 2026: “Data Worlds”

Ada penelitian yang menurut saya sangat menarik untuk dimasukkan ke dalam diskusi ini.

Pada Juni 2026, Manjari Mahajan menerbitkan paper:

“Data worlds: The Gates Foundation and the making of global health.”

Paper tersebut memperkenalkan konsep data worlds.

Intinya, data bukan sekadar kumpulan angka yang netral.

Cara kita:

mengukur → mengklasifikasikan → memvisualisasikan → menentukan indikator → membangun infrastruktur data

dapat ikut menentukan masalah kesehatan mana yang menjadi terlihat dan kemudian dianggap layak untuk ditangani.

Ini sangat menarik.

Karena ternyata kekuasaan tidak hanya berada pada:

“siapa yang mempunyai uang?”

Tetapi juga:

“siapa yang menentukan apa yang diukur?”

Dan ini membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam:

Apakah sesuatu menjadi prioritas karena memang paling penting, atau karena sesuatu tersebut paling mudah diukur, dimodelkan, didanai, dan dijadikan target program?

Ini bukan tuduhan terhadap Gates Foundation.

Ini adalah pertanyaan tentang governance of knowledge.

Dari Rockefeller ke Gates: Polanya Berubah, Pertanyaannya Tetap

Sejarah kesehatan modern juga tidak dapat dilepaskan dari peran filantropi besar, termasuk Rockefeller Foundation.

Rockefeller Foundation memainkan peran penting dalam perkembangan pendidikan kedokteran, public health, penelitian, dan berbagai institusi kesehatan pada abad ke-20.

Tetapi kita perlu berhati-hati terhadap narasi populer seperti:

“Rockefeller menciptakan kedokteran modern untuk menghancurkan pengobatan alami.”

Klaim sebesar itu membutuhkan evidence historis yang sangat kuat.

Pertanyaan yang lebih akademis adalah:

“Bagaimana pendanaan filantropi, reformasi pendidikan medis, standardisasi pendidikan, dan perkembangan biomedical science ikut membentuk paradigma kedokteran modern?”

Pertanyaan ini jauh lebih menarik.

Dan jauh lebih sulit dibantah.

Conventional Medicine Bukan Musuh

Kritik terhadap Conventional/Western Medicine tidak berarti kita harus menolak conventional medicine.

Justru sebaliknya.

Kita tidak mungkin mengabaikan keberhasilan:

antibiotik, operasi, emergency medicine, intensive care, transplantasi, imaging, anestesi, trauma care, dan berbagai teknologi medis modern.

Masalahnya bukan conventional medicine.

Masalahnya adalah ketika:

Satu paradigma menjadi begitu dominan sehingga manusia lebih sering dilihat melalui penyakitnya daripada sebagai sebuah sistem biologis yang kompleks.

Di sinilah Functional Medicine mencoba memperluas pertanyaan.

Functional Medicine: Bukan Sekadar “Apa Penyakitnya?”

Functional Medicine menggeser pertanyaan dari:

“Apa diagnosisnya?”

menjadi:

“Mengapa kondisi ini terjadi pada orang ini?”

Maka kita mulai memperhatikan:

  • nutrisi,
  • metabolisme,
  • microbiome,
  • sleep,
  • stress,
  • environment,
  • lifestyle,
  • inflammation,
  • dan individual variability.

Tetapi Functional Medicine pun tidak boleh kebal terhadap kritik.

Kalau kita mengkritik Conventional Medicine karena terlalu dogmatis, jangan sampai kita mengganti dogma tersebut dengan:

Functional Medicine dogma.

Setiap klaim FM juga harus melewati evidence.

Dari Functional Medicine Menuju Tensional Medicine

Di sinilah QULBI mencoba mengembangkan sebuah perspektif tambahan.

Tensional Medicine (TM) melihat manusia sebagai sistem adaptif yang terus menghadapi berbagai beban. Dengan Tiga Model Fondasi TM :

1. Tensional Load — WHY

Apa yang membebani sistem?

  • Mechanical
  • Biological/Metabolic
  • Psychological

2. Tensional Imbalance — WHERE

Di mana ketidakseimbangan terjadi?

Dari:

molecular → cellular → tissue → organ → system → network → behavioral

3. Tensional Dysfunction — HOW

Bagaimana gangguan berkembang?

Initiation → Adaptation → Compensation → Network → Signature → Clinical Expression

Dengan demikian, Tensional Medicine tidak hanya bertanya:

“Apa penyakitnya?”

atau:

“Apa terapinya?”

Tetapi:

“Apa load yang sedang diterima sistem?”

“Bagaimana tubuh beradaptasi?”

“Di mana terjadi tensional imbalance?”

“Bagaimana kompensasi berkembang?”

Dan akhirnya:

“Apa outcome setelah intervensi?”

Bagaimana Framework Ini Melihat Vaksin?

Bagian ini perlu dibuat sangat hati-hati.

Vaksin secara imunologis bukan sekadar:

“penguat imun.”

Lebih tepat dipahami sebagai stimulus imunologis yang dirancang untuk menghasilkan respons spesifik terhadap antigen tertentu dan membentuk immune memory.

Karena itu, vaksin dan sistem imun sebaiknya tidak dibahas dengan logika:

“Imun kuat = tidak membutuhkan vaksin.”

Itu terlalu sederhana.

Seseorang dapat memiliki sistem imun yang berfungsi baik tetapi belum mempunyai antigen-specific immunity terhadap patogen tertentu.

Di sisi lain, setiap intervensi biologis tetap layak dinilai berdasarkan:

risiko penyakit → manfaat yang diharapkan → efektivitas → durasi perlindungan → adverse events → karakteristik individu → epidemiologi.

Inilah wilayah:

Personalized Risk–Benefit Assessment

Dan menurut saya, inilah titik temu antara:

Functional Medicine + Personalized Medicine + Tensional Medicine.

MAHA: Kritik terhadap Sistem Kesehatan Modern

Gerakan Make America Healthy Again (MAHA) juga menarik karena membawa kembali diskusi mengenai:

chronic disease, food environment, ultra-processed food, environmental exposures, preventive health, pharmaceutical influence, dan corporate determinants of health.

Pertanyaan besarnya:

Mengapa sistem kesehatan sering jauh lebih kuat dalam mengobati penyakit setelah muncul daripada mencegah kondisi yang menyebabkan penyakit tersebut?

Pertanyaan ini layak dibahas.

Tetapi prinsip yang sama berlaku:

MAHA juga harus diaudit dengan evidence.

Tidak semua klaim MAHA otomatis benar hanya karena mengkritik mainstream.

Inilah Problem Ketika EBM Berubah Menjadi Authority-Based Medicine

Evidence-Based Medicine sering disederhanakan menjadi:

“Ikuti guideline.”

Padahal:

Evidence ≠ guideline.

Evidence adalah hasil penelitian.

Guideline adalah rekomendasi yang dibangun berdasarkan evidence dengan mempertimbangkan konteks, manfaat, risiko, nilai pasien, sumber daya, dan faktor lainnya.

Maka kita harus membedakan:

  • Evidence: Apa yang ditemukan penelitian?
  • Interpretation: Bagaimana hasilnya ditafsirkan?
  • Guideline: Apa rekomendasinya?
  • Policy: Bagaimana rekomendasi tersebut diterapkan?

Keempatnya tidak identik.

Karena itu:

“WHO mengatakan demikian”

bukan akhir dari critical appraisal.

Tetapi:

“WHO mengatakan demikian, mari kita lihat evidence yang menjadi dasarnya.”

Itulah EBM yang sehat.

Namun Anti-Mainstream Juga Harus Diaudit

Ada bahaya lain.

Kita bisa begitu kecewa dengan mainstream sampai akhirnya percaya:

“Kalau mainstream mengatakan A, berarti B pasti benar.”

Tidak.

Minority evidence ≠ automatically correct.

Sebuah paper dengan 20 peserta tidak otomatis lebih benar daripada RCT dengan 20.000 peserta hanya karena hasilnya kontroversial.

Sebaliknya, RCT besar pun tidak otomatis sempurna.

Maka QULBI menggunakan prinsip:

  • Mainstream evidence harus diuji.
  • Dissenting evidence juga harus diuji.

Pisau kritiknya sama.

QULBI 7-Layer Evidence Audit

Dari sinilah saya melihat QULBI dapat menawarkan sesuatu yang lebih konkret.

Setiap klaim kesehatan dapat diaudit melalui tujuh pertanyaan:

  1. SOURCE: Siapa yang membuat klaim?
  2. FUNDING: Siapa yang membiayai?
  3. DESIGN: Bagaimana evidence diperoleh?
  4. BIAS: Apa potensi biasnya?
  5. REPLICATION: Apakah hasilnya konsisten?
  6. BIOLOGICAL PLAUSIBILITY: Apakah mekanismenya masuk akal?
  7. OUTCOME: Apa yang benar-benar terjadi pada manusia?
Baca Juga :  Saatnya Kita Kritis dan Solutif: Menjawab Tudingan Hoaks Soal Efek Samping Vaksin COVID-19 dengan Ilmiah dan Bijak

Dengan framework ini kita tidak bertanya:

“Apakah ini mainstream?”

Tetapi:

“Seberapa kuat klaim ini setelah diaudit?”

Karena Evidence Tidak Jatuh dari Langit

Kita sering mengatakan:

“Ada evidence.”

Tetapi evidence sebenarnya mempunyai perjalanan panjang.

Research question

Funding

Study design

Data collection

Analysis

Publication

Interpretation

Guideline

Policy

Clinical practice

Patient outcome

Bias dapat muncul pada hampir setiap tahap.

Maka critical appraisal tidak boleh berhenti pada:

“Ada paper.”

Pertanyaannya:

Paper seperti apa?

Siapa yang membiayai?

Bagaimana desainnya?

Apa comparator-nya?

Apa outcome-nya?

Berapa lama follow-up?

Apakah hasilnya direplikasi?

Apakah efeknya clinically meaningful?

Dari Evidence-Based Medicine Menuju Outcome-Based Medicine

Pada akhirnya pasien tidak datang ke klinik untuk memenangkan debat:

  • WHO vs Kennedy.
  • Big Pharma vs natural medicine.
  • Conventional vs Functional Medicine.

Pasien datang karena ingin:

  • nyeri berkurang,
  • fungsi kembali,
  • tidur membaik,
  • energi meningkat,
  • metabolisme membaik,
  • dan: kualitas hidup meningkat.

Karena itu, QULBI ingin membawa diskusi satu langkah lebih jauh:

Outcome-Based Tensional Medicine

Evidence memberi kita:

Apa yang secara umum mungkin bekerja.

Clinical reasoning memberi kita:

Bagaimana menerapkannya pada individu.

Outcome memberi kita:

Apa yang benar-benar terjadi setelah intervensi.

Ketiganya harus bertemu.

Dari “Siapa yang Benar?” Menjadi “Apa yang Benar?”

Mungkin inilah perubahan cara berpikir yang paling penting.

Jangan hanya bertanya:

“Apakah WHO benar?”

Tanyakan:

“Klaim WHO yang mana?”

Jangan hanya bertanya:

“Apakah Kennedy Jr. benar?”

Tanyakan:

“Klaim Kennedy Jr. yang mana?”

Jangan hanya bertanya:

“Apakah Gates baik atau buruk?”

Tanyakan:

“Apa pengaruh Gates yang dapat dibuktikan, melalui mekanisme apa, dan dengan outcome apa?”

Jangan hanya bertanya:

“Apakah Functional Medicine benar?”

Tanyakan:

“Intervensi FM yang mana, pada pasien yang mana, dengan evidence apa?”

Dan pertanyaan yang sama harus diberikan kepada:

QULBI.

QULBI Pun Harus Bersedia Dikritik

Ini prinsip yang sangat penting.

Jika suatu hari evidence menunjukkan bahwa sebuah konsep dalam Tensional Medicine (TM) tidak tepat, maka konsep tersebut harus diperbaiki.

Jika sebuah intervensi QULBI tidak menghasilkan outcome yang diharapkan, maka intervensinya harus dievaluasi.

Jika data klinis bertentangan dengan hipotesis, jangan memaksa data mengikuti teori.

Teori harus mengikuti data.

Bukan sebaliknya.

Karena itulah perbedaan antara:

Science dan: Ideology.

Jangan Ganti Satu Dogma dengan Dogma Baru

Saya tidak ingin QULBI menjadi:

anti-farmasi.

Saya juga tidak ingin QULBI menjadi:

pro-farmasi secara membabi buta.

Saya tidak ingin QULBI menjadi:

anti-vaksin.

Tetapi juga tidak:

pro-vaksin secara dogmatis.

Saya ingin QULBI berada pada posisi:

PRO-EVIDENCE.

Tetapi evidence yang dimaksud bukan hanya apa yang dikatakan mayoritas.

Melainkan:

  • mainstream evidence,
  • independent evidence,
  • dissenting evidence,
  • real-world evidence,
  • clinical experience,

dan yang sangat penting:

  • patient outcome.

Kesimpulan

Saya percaya kesehatan manusia terlalu penting untuk diserahkan sepenuhnya kepada:

  • industri,
  • pemerintah,
  • lembaga internasional,
  • filantropi,
  • dokter,
  • guideline,
  • influencer,

atau bahkan:

  • kelompok anti-mainstream.

Semua pihak harus bisa diperiksa.

Semua klaim harus bisa ditantang.

Semua evidence harus bisa dinilai.

Dan semua paradigma harus bersedia dikoreksi.

Karena itu, kita tidak membutuhkan:

“Percaya semua yang dikatakan mainstream.”

Tetapi kita juga tidak membutuhkan:

“Tolak semua yang dikatakan mainstream.”

Yang kita butuhkan adalah:

  • Periksa.
  • Bandingkan.
  • Uji.
  • Evaluasi.
  • Lihat outcome.

Dan ketika evidence baru muncul?

Bersedia mengubah kesimpulan.

Karena dalam perjalanan mencari kesehatan dan kebenaran:

kemampuan mengatakan “saya mungkin salah” bukan kelemahan.

Itulah tanda bahwa kita masih menjalankan ilmu.

QULBI: From Health Authority to Health Literacy

Mungkin inilah kontribusi yang ingin dibangun QULBI.

Bukan meminta masyarakat untuk:

“Percaya kepada QULBI.”

Tetapi membantu masyarakat belajar:

“Bagaimana menilai klaim kesehatan?”

Karena masa depan kesehatan, Isu Kesehatan Global bukan hanya tentang teknologi yang semakin canggih.

  • Bukan hanya tentang obat baru.
  • Bukan hanya tentang vaksin baru.
  • Bukan hanya tentang AI.
  • Bukan hanya tentang genomics.

Tetapi tentang manusia yang semakin mampu memahami tubuhnya sendiri, memahami evidence, memahami risiko, dan mengambil keputusan kesehatan secara lebih sadar.

Pada akhirnya:

Bukan siapa yang paling keras berbicara yang harus dipercaya.

Tetapi siapa yang paling mampu menunjukkan evidence, transparansi, reasoning, dan outcome.

Dan mungkin di situlah perjalanan:

Conventional Medicine → Functional Medicine → Tensional Medicine

menjadi menarik.

Bukan untuk mengganti satu dogma dengan dogma baru.

Tetapi untuk terus memperluas pertanyaan:

Apa yang terjadi?

Mengapa terjadi?

Di mana terjadi?

Bagaimana sistem beradaptasi?

Apa intervensinya?

Dan apa outcome-nya?

QULBI Method: Balance Your Tension!

Catatan Pembaruan dari Artikel 1 Juni 2025

Artikel ini merupakan pembaruan dan pengembangan dari tulisan QULBI yang pertama kali diterbitkan pada 1 Juni 2025.

Tulisan lama tidak dihapus karena merupakan bagian dari perjalanan pemikiran QULBI. Namun, beberapa klaim dalam tulisan lama kini perlu dibaca dengan pembedaan yang lebih jelas antara fakta, interpretasi, hipotesis, dan klaim yang belum terbukti.

Pembaruan ini dilakukan karena evidence, data, dan konteks global health terus berkembang.

Baca artikel awal:

Menguak Agenda di Balik Kesehatan Global: Dari Fauci-Gates, Rockefeller Medicine, hingga Solusi MAHA dan QULBI Method

Saat Evidence-Based Medicine (EBM) Jadi Konsensus Antara Ilmu, Bisnis dan Nurani

Referensi :

  • World Health Organization. How WHO is funded. WHO menjelaskan struktur assessed dan voluntary contributions serta bahwa voluntary contributions dalam beberapa tahun terakhir mencakup lebih dari tiga perempat pembiayaan WHO.
  • World Health Organization. Current state of WHO’s financing. WHO menyatakan bahwa assessed contributions saat ini sekitar 16% dari total budget dan hampir 10% dana WHO berasal dari philanthropic foundations, terutama Gates Foundation.
  • World Health Organization. Voluntary contributions by fund and by contributor, 2025. Laporan resmi yang diterbitkan 29 Mei 2026.
  • WHO Director-General, 79th World Health Assembly, 18 May 2026. Pernyataan mengenai meningkatnya ketergantungan pada voluntary contributions yang earmarked dan risiko terhadap independensi serta fleksibilitas WHO.
  • Kennedy, R. F. Jr. The Real Anthony Fauci: Bill Gates, Big Pharma, and the Global War on Democracy and Public Health. Buku ini digunakan sebagai sumber kritik dan klaim Kennedy Jr., bukan sebagai bukti bahwa seluruh klaimnya otomatis benar.
  • BMJ Global Health. Who’s leading WHO? A quantitative analysis of the Bill and Melinda Gates Foundation’s grants to WHO, 2000–2024. Analisis 640 grant senilai US$5,5 miliar dan distribusi pendanaannya.
  • Mahajan, M. (2026). Data worlds: The Gates Foundation and the making of global health. Economy and Society. DOI: 10.1080/03085147.2026.2650060.
  • GAVI. Gates Foundation. Data mengenai komitmen Gates Foundation kepada GAVI, permanent board seat, serta peran dalam vaccine market shaping.
  • Syaifullah, E. (2026) Tensional Medicine Framework yang telah dipublikasikan di Zenodo (DOI:10.5281/zenodo.19759409)
0Shares

Griya Sehat QULBI

Spesialis Terapi Nyeri Bekasi

Tinggalkan Balasan