Dokteroid – Refleksi tentang profesi, ilmu pengetahuan, kritik terhadap terapis non-dokter, dan perjalanan lahirnya Tensional Medicine (TM).
Ada sebuah label yang beberapa kali diarahkan kepada saya:
“Dokteroid.”
Ada pula yang mengatakan:
“Tukang pijat tidak usah menggunakan istilah-istilah dokter.”
Bahkan ada yang menyebut:
“Sedang main dokter-dokteran.”
Saya memahami bahwa di balik komentar tersebut mungkin ada kekhawatiran tentang batas kewenangan profesi. Kekhawatiran seperti itu sebenarnya penting.
Namun, apakah menggunakan istilah ilmiah otomatis berarti seseorang sedang mengaku sebagai dokter?
Menurut saya, tidak.
Karena itu, tulisan ini bukan dibuat untuk membalas ejekan dengan ejekan. Saya justru ingin menjelaskan dengan tenang: siapa saya, apa yang saya kerjakan, apa batas saya, dan mengapa akhirnya lahir sebuah framework yang kami sebut Tensional Medicine (TM).
—
Saya Memang Bukan Dokter
Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana.
Saya bukan dokter.
- Saya tidak pernah mengaku sebagai dokter.
- Saya tidak menggunakan gelar dokter.
- Saya tidak menjalankan praktik kedokteran.
- Dan saya tidak memiliki pendidikan kedokteran.
Jadi kalau ada yang mengatakan:
“Kamu bukan dokter.”
Jawaban saya sederhana:
Betul.
Saya memang bukan dokter.
Saya justru merasa penting untuk mengatakan hal tersebut secara terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai profesi maupun kewenangan saya.
—
Saya Juga Tidak Sedang Main Dokter-Dokteran
Menjadi praktisi kesehatan tradisional atau terapis tidak berarti harus berpura-pura menjadi dokter.
Demikian pula mempelajari ilmu tentang tubuh manusia tidak otomatis berarti mengambil alih profesi dokter.
Saya menjalankan pelayanan sesuai kompetensi, profesi, dan perizinan yang saya miliki sebagai Tenaga Kesehatan Tradisional (Nakestrad) Batra bidang Keterampilan/Pijat.
Saya tidak bermaksud mengambil alih peran dokter.
Saya tidak menganggap profesi saya lebih tinggi daripada profesi kesehatan lainnya.
- Dokter memiliki kompetensinya.
- Fisioterapis memiliki kompetensinya.
- Perawat memiliki kompetensinya.
- Terapis memiliki kompetensinya.
- Penyehat tradisional memiliki ruang lingkupnya.
Setiap profesi memiliki peran dan batas yang perlu dihormati.
Menurut saya, menghormati batas profesi bukan tanda keterbatasan. Justru itulah bagian dari tanggung jawab profesional.
—
Lalu Mengapa Saya Menggunakan Istilah Ilmiah?
Di sinilah mungkin sumber kesalahpahamannya.
Ketika saya berbicara tentang:
– biomekanika,
– fascia,
– mechanobiology,
– mechanotransduction,
– extracellular matrix,
– biotensegrity,
– precision medicine,
sebagian orang mungkin melihatnya sebagai “bahasa dokter”.
Padahal istilah-istilah tersebut bukan milik satu profesi.
Ilmu pengetahuan bersifat lintas disiplin.
Biomekanika bersinggungan dengan fisika, teknik, biologi, kedokteran, fisioterapi, ilmu olahraga, dan berbagai bidang lainnya.
Mechanobiology bahkan merupakan bidang interdisipliner yang mempertemukan biologi dengan mekanika.
Jadi, mempelajari atau membahas suatu bidang ilmu tidak otomatis berarti seseorang mengklaim memiliki kewenangan klinis pada seluruh bidang tersebut. Dan kewenangan profesi yang terbatas juga tidak berarti seseorang harus berhenti atau tidak boleh belajar.
Di sinilah kita perlu membedakan:
Hak untuk belajar dan berdiskusi tentang ilmu
dengan
kewenangan untuk melakukan tindakan profesi tertentu.
Keduanya bukan hal yang sama.
—
Sedikit Tentang Latar Belakang Pendidikan Saya
Mungkin sebagian orang yang memberikan label “dokteroid” belum mengetahui latar belakang pendidikan saya.
Saya pernah menempuh pendidikan:
Fisika – Instrumentasi Elektronika, FMIPA Universitas Indonesia
dan kemudian
S1 Pendidikan IPA.
Saya tidak mengatakan bahwa latar belakang tersebut menjadikan saya ahli kedokteran.
Tentu tidak.
Namun pendidikan tersebut membentuk cara berpikir saya terhadap sistem, pengukuran, mekanika, energi, instrumentasi, dan hubungan sebab-akibat.
Dari sanalah ketertarikan saya terhadap biomekanika dan mechanobiology berkembang.
Kemudian, melalui pengalaman klinis dari ribuan klien, berbagai pelatihan terapi berlisensi, pembelajaran mandiri, literatur ilmiah, dan diskusi lintas disiplin, ketertarikan tersebut berkembang menjadi pertanyaan yang lebih spesifik:
Bagaimana beban mekanik dan adaptasi jaringan dapat berhubungan dengan fungsi serta keluhan nyeri yang dialami seseorang?
Pertanyaan tersebutlah yang kemudian membawa saya semakin jauh mempelajari fascia, mechanotransduction, extracellular matrix, biotensegrity, mechanobiology, dan berbagai bidang terkait.
Tetapi saya tetap menyadari satu hal:
Saya masih belajar.
Dan mungkin akan terus belajar.
—
Istilah Ilmiah Bukan Kosmetik
Saya juga setuju dengan satu kritik yang cukup sering muncul di dunia terapi:
Istilah yang rumit bukan bukti bahwa suatu terapi efektif.
Seseorang bisa saja mengatakan:
“Ini terapi fascia system, mechanobiology, dan biotensegrity…”
Kedengarannya sangat ilmiah.
Tetapi kemudian muncul pertanyaan sederhana:
“Maksudnya apa?”
Kalau jawabannya justru semakin berputar-putar, tentu ada masalah.
Bagi saya, istilah ilmiah tidak boleh digunakan sebagai kosmetik agar suatu terapi terlihat lebih canggih.
Istilah ilmiah seharusnya membantu kita menjadi lebih presisi dalam memahami dan menjelaskan sesuatu.
Bukan sebaliknya.
—
Ilmunya Boleh Kompleks, Penjelasannya Harus Sederhana
Saya percaya pada satu prinsip:
Complexity in Science, Simplicity in Communication.
Ilmunya boleh kompleks.
Tetapi penjelasannya harus tetap dapat dipahami.
Misalnya, dalam bahasa ilmiah kita mengenal istilah mechanotransduction.
Secara sederhana, konsep ini dapat dijelaskan seperti ini:
Sel dan jaringan tubuh dapat merespons tekanan, tarikan, dan gaya mekanik sebagai bagian dari proses biologis.
Atau istilah Tensional Imbalance.
Dalam bahasa sederhana:
Ada bagian tubuh yang bekerja terlalu keras, sementara bagian lain mungkin tidak bekerja secara optimal.
Istilah compensation dapat dijelaskan:
Ketika satu bagian tubuh mengalami kesulitan, bagian lain berusaha membantu menggantikannya.
Dan Tensional Load dapat dijelaskan:
Tubuh setiap hari menerima berbagai beban. Ada beban dari aktivitas dan gerakan, ada faktor biologis, dan ada pula faktor psikologis. Tubuh harus terus beradaptasi terhadap semuanya.
Kalau sebuah konsep tidak bisa saya jelaskan dengan sederhana, saya justru menganggap itu sebagai pengingat bagi diri saya sendiri:
Mungkin saya sendiri belum cukup memahami konsep tersebut.
—
Satu Ilmu, Dua Bahasa
Menurut saya, ilmu yang baik membutuhkan dua cara komunikasi:
1. Bahasa ilmiah untuk presisi
Ketika berdiskusi dengan peneliti atau sesama praktisi, istilah ilmiah diperlukan agar konsep yang dibicarakan memiliki makna yang lebih spesifik.
2. Bahasa sederhana untuk manusia
Ketika berbicara dengan pasien, tujuan kita bukan membuat mereka kagum dengan istilah yang rumit.
Tujuannya adalah membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi dan mengapa suatu pendekatan dilakukan.
Karena itu, istilah ilmiah dan bahasa sederhana tidak perlu dipertentangkan.
Keduanya memiliki tempat masing-masing.
Kepada ilmu, kita harus presisi. Kepada manusia, kita harus bisa dimengerti.
—
Istilah Ilmiah Juga Bukan Bukti Efektivitas
Ini juga perlu saya tegaskan.
Menggunakan kata:
fascia, mechanobiology, mechanotransduction, proprioception, neuromuscular, biotensegrity, dsb
tidak otomatis membuktikan bahwa suatu intervensi efektif.
Nama yang terdengar ilmiah tidak sama dengan evidence.
Karena itu, dalam membangun Tensional Medicine (TM), saya berusaha membedakan beberapa pertanyaan penting:
Apa konsepnya?
Apakah istilah yang digunakan memiliki definisi yang jelas?
Apa mekanismenya?
Bagaimana proses biologis atau biomekanis yang mungkin terlibat?
Apa hipotesisnya?
Bagian mana yang masih berupa dugaan dan perlu diuji?
Apa intervensinya?
Apa yang sebenarnya dilakukan?
Apa outcome-nya?
Perubahan apa yang ingin dicapai dan bagaimana perubahan tersebut diukur?
Apa evidence-nya?
Bukti mana yang sudah tersedia, dan bagian mana yang masih membutuhkan penelitian?
Bagi saya, urutan ini penting.
Karena ilmu bukan sekadar kumpulan istilah.
Ilmu adalah usaha untuk:
menjelaskan, menguji, dan bila perlu mengoreksi pemahaman kita sendiri.
—
Tensional Medicine Tidak Lahir Karena Saya Ingin Menjadi Dokter
Ini penting untuk diluruskan.
Tensional Medicine (TM) tidak dibuat untuk “bermain dokter-dokteran”.
TM juga tidak dibuat untuk menggantikan kedokteran.
TM lahir bukan dari sekedar teori tapi dari pengalaman klinis ribuan klien di Griya Sehat QULBI.
Alhamdulillah, selama bertahun-tahun menangani ribuan klien, kami melihat pola-pola yang terus berulang.
- Ada klien yang mengalami perbaikan sangat cepat.
- Ada yang membutuhkan beberapa sesi.
- Ada yang membaik tetapi kemudian kambuh.
- Ada pula yang membutuhkan perubahan kebiasaan selama berbulan-bulan agar hasilnya lebih bertahan.
Dari sana muncul pertanyaan:
Mengapa respons setiap klien berbeda?
Pertanyaan tersebut kemudian mendorong kami untuk mencari penjelasan melalui berbagai bidang ilmu.
Bukan mencari pembenaran.
Tetapi mencari pemahaman.
Dari proses panjang itulah kemudian lahir framework:
Tensional Medicine (TM)
Sebagai langkah awal dalam pengembangan keilmuan, kerangka konsep Tensional Medicine (TM) telah dipublikasikan secara terbuka melalui salah satu platform ilmiah global; Zenodo.
Dokumen ini diunggah oleh Saya, Endy Syaifullah, Founder Griya Sehat QULBI dalam bentuk preprint di Zenodo, sehingga dapat diakses, dipelajari, dan menjadi bahan diskusi oleh komunitas ilmiah secara lebih luas.
https://doi.org/10.5281/zenodo.19759409
—
Dari Pengalaman Klinis Menuju Framework
Perjalanan framework Tensional Medicine (TM) bagi kami bukan:
Teori → mencari klien.
Justru sebaliknya:
Klien → observasi → pertanyaan → mencari penjelasan → framework → penelitian.
Karena itu, kami tidak ingin mengatakan bahwa pengalaman klinis kami otomatis membuktikan TM.
Tidak.
Pengalaman klinis dapat menjadi sumber hipotesis.
Tetapi hipotesis harus diuji.
Inilah titik penting yang sekarang sedang kami bangun.
—
“Mana EBM-nya?”
Pertanyaan ini sebenarnya sah.
Bahkan penting.
Kami tidak perlu alergi terhadap pertanyaan tersebut.
Sebaliknya, pertanyaan:
“Mana evidence-nya?”
seharusnya menjadi dorongan untuk bekerja lebih baik.
Karena itu, perjalanan TM sekarang bergerak dari:
Clinical Experience
↓
Clinical Outcome
↓
Framework
↓
Outcome Documentation
↓
Research
↓
Evidence Generation
Kami sudah memiliki pengalaman klinis.
Kami memiliki outcome pasien.
Namun kami juga menyadari bahwa dokumentasi outcome tersebut selama bertahun-tahun belum dilakukan dengan sistematis seperti yang seharusnya.
Itulah pekerjaan rumah kami.
Dan justru itulah yang sedang kami perbaiki.
—
Kami Tidak Mengklaim Tensional Medicine Sudah Terbukti
Ini bagian yang menurut saya sangat penting.
Saya tidak ingin mengatakan:
“Karena pasien kami banyak yang membaik, berarti TM sudah terbukti secara ilmiah.”
Itu bukan cara berpikir ilmiah.
Outcome klinis yang baik adalah sesuatu yang menggembirakan.
Tetapi outcome tersebut perlu:
– didokumentasikan,
– diukur,
– dibandingkan,
– dianalisis,
– dan bila memungkinkan diuji melalui penelitian dengan metodologi yang tepat.
Karena itu, Tensional Medicine (TM) saat ini lebih tepat dipandang sebagai framework yang sedang dikembangkan dan diuji, bukan sebagai kebenaran ilmiah yang sudah final.
Jika penelitian di masa depan menunjukkan bahwa suatu bagian dari TM perlu diperbaiki, maka bagian tersebut harus diperbaiki.
Jika ternyata ada hipotesis yang tidak terbukti, maka harus diterima.
Begitulah ilmu pengetahuan bekerja.
—
Jadi, Apakah Saya “Dokteroid”?
Saya serahkan label itu kepada siapa pun yang ingin menggunakannya.
Tetapi saya ingin menjelaskan satu hal:
Saya tidak mengaku sebagai dokter.
Saya tidak sedang mengambil identitas dokter.
Saya tidak sedang menjalankan praktik kedokteran.
Saya sedang belajar ilmu yang saya perlukan untuk memahami pekerjaan saya dengan lebih baik.
Dan saya sedang menyusun pengalaman klinis tersebut menjadi sebuah clinical framework Tensional Medicine (TM) yang dapat dipelajari, dikritisi, dan—yang paling penting—diuji.
—
Kalau Disebut “Tukang Pijat”, Apakah Saya Tersinggung?
Tidak.
Jika seseorang menggunakan istilah tersebut untuk merendahkan, saya tentu tidak perlu menerimanya sebagai penghinaan.
Tetapi jika yang dimaksud adalah bahwa saya memang memiliki ruang lingkup praktik sebagai penyehat tradisional dengan kompetensi pijat, maka saya tidak malu dengan profesi tersebut.
Saya menghargai pekerjaan saya.
Yang saya tolak bukan identitas profesinya.
Yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa seseorang yang bekerja sebagai terapis atau penyehat tradisional otomatis tidak boleh mempelajari ilmu pengetahuan di luar label profesinya.
- Seorang tukang kayu dapat mempelajari fisika material.
- Seorang pelatih olahraga dapat mempelajari biomekanika.
- Seorang terapis dapat mempelajari anatomi dan fisiologi.
- Seorang insinyur dapat mempelajari biologi.
Tetapi mempelajari ilmu tersebut tentu tidak otomatis memberikan kewenangan profesi yang bukan miliknya.
Batas inilah yang harus tetap dijaga.
—
Bagi Saya, Kritik Adalah Pengingat
Karena itu, ketika ada kritik:
“Jangan hanya menggunakan istilah ilmiah agar terapi terlihat hebat.”
Saya justru setuju.
Itu adalah pengingat yang baik.
Saya tidak ingin menggunakan bahasa sains sebagai dekorasi.
Saya ingin menggunakan ilmu untuk membantu memahami apa yang saya lakukan.
Dan kalau suatu konsep ternyata belum cukup jelas, maka tugas saya bukan menutupinya dengan istilah yang lebih rumit.
Tugas saya adalah:
belajar lebih dalam, menjelaskan lebih jujur, dan meneliti lebih baik.
Mungkin inilah salah satu prinsip yang ingin terus saya pegang dalam perjalanan Tensional Medicine (TM):
Ilmu boleh semakin dalam. Bahasa tidak harus semakin sulit.
—
Saya Tidak Meminta Orang Percaya kepada Tensional Medicine
Justru sebaliknya.
Saya ingin mengatakan:
Jangan percaya kepada Tensional Medicine (TM) hanya karena saya yang menyampaikannya.
- Baca literaturnya.
- Kritisi framework-nya.
- Tanyakan metodologinya.
- Lihat outcome-nya.
- Uji hipotesisnya.
Jika ada yang salah, tunjukkan di mana salahnya.
Jika ada data yang lebih kuat, mari kita gunakan data tersebut.
Karena bagi saya, kritik ilmiah jauh lebih berharga daripada pujian.
—
Kritik terhadap Gagasan Silahkan. Serangan terhadap Identitas Tidak Membantu Ilmu.
Saya terbuka terhadap kritik:
“Konsep ini belum memiliki RCT.”
Silahkan.
“Variabel ini belum tervalidasi.”
Silahkan.
“Hubungan mekanisme ini masih berupa hipotesis.”
Saya setuju.
“Framework ini perlu penelitian lebih lanjut.”
Saya sepakat.
Tetapi ketika kritik berubah menjadi:
“Dokteroid.”
“Main dokter-dokteran.”
“”Tukang pijat sok pakai istilah ilmiah/medis agar terapi terlihat hebat”
maka sebenarnya kita sudah meninggalkan diskusi ilmiah.
Karena yang seharusnya diuji adalah gagasan dan datanya, bukan sekadar label orang yang menyampaikannya.
—
Pada Akhirnya, Saya Tidak Perlu Menang dalam Perdebatan
Saya hanya ingin terus belajar.
Terus memperbaiki pelayanan.
Terus mendokumentasikan outcome.
Terus membaca penelitian.
Dan perlahan-lahan membawa pengalaman klinis Griya Sehat QULBI ke dalam bentuk yang lebih sistematis dan dapat diuji.
Mungkin Tensional Medicine (TM) akan berkembang menjadi sesuatu yang kuat.
Mungkin sebagian konsepnya akan berubah.
Mungkin beberapa hipotesisnya akan gugur.
Saya menerima semua kemungkinan tersebut.
Karena kerendahan hati ilmiah berarti bersedia mengubah pendapat ketika data yang lebih baik menunjukkan bahwa kita perlu berubah.
Dan mungkin inilah jawaban paling sederhana terhadap labeling Dokteroid dan semua label tadi:
Saya bukan dokter. Saya juga tidak sedang main dokter-dokteran. Saya adalah praktisi yang sedang belajar, bekerja sesuai kewenangan, dan mencoba mengubah pengalaman klinis menjadi hipotesis yang dapat diuji secara ilmiah.
Saya menggunakan istilah ilmiah bukan untuk terlihat hebat, tetapi untuk berusaha memahami konsep dengan lebih presisi.
Dan Saya tetap berkewajiban menjelaskan konsep tersebut dengan bahasa yang sederhana.
Pada akhirnya, saya tidak meminta siapa pun percaya kepada saya.
Saya hanya mengajak siapa pun untuk menguji gagasan yang kami bangun.
Karena ilmu pengetahuan tidak membutuhkan siapa yang paling keras berbicara.
Ilmu pengetahuan membutuhkan pertanyaan yang baik, data yang jujur, metodologi yang benar, dan keberanian untuk menerima hasilnya—bahkan ketika hasil tersebut tidak sesuai dengan dugaan kita sendiri.
—
Referensi :
- Sackett DL, Rosenberg WMC, Gray JAM, Haynes RB, Richardson WS.
Evidence Based Medicine: What It Is and What It Isn’t. BMJ. 1996;312:71–72.
→ Referensi utama untuk menjelaskan bahwa EBM mengintegrasikan bukti ilmiah terbaik dengan clinical expertise dalam pengambilan keputusan klinis. - Jaalouk DE, Lammerding J. Mechanotransduction Gone Awry. Nature Reviews Molecular Cell Biology. 2009;10:63–73. → Landasan mechanotransduction: bagaimana sel menerjemahkan gaya mekanik menjadi sinyal biokimia dan bagaimana proses tersebut berhubungan dengan fungsi jaringan.
- Humphrey JD, Dufresne ER, Schwartz MA.
Mechanotransduction and Extracellular Matrix Homeostasis. Nature Reviews Molecular Cell Biology. 2014;15:802–812.
→ Sangat relevan untuk TM karena membahas hubungan antara mechanical cues, extracellular matrix, homeostasis, dan respons sel. - Ingber DE.
The Architecture of Life. Scientific American. 1998;278(1):48–57.
→ Referensi klasik mengenai konsep tensegrity dalam arsitektur biologis. - Collins FS, Varmus H.
A New Initiative on Precision Medicine. New England Journal of Medicine. 2015;372:793–795.
→ Mendukung pembahasan mengenai perkembangan pendekatan personal/precision dalam pelayanan kesehatan. - Hartvigsen J, Hancock MJ, Kongsted A, et al.
What Low Back Pain Is and Why We Need to Pay Attention. The Lancet. 2018;391:2356–2367.
→ Penting untuk konteks muskuloskeletal dan pemahaman modern tentang low back pain.\ - Syaifullah, E. (2026) Tensional Medicine Framework yang telah dipublikasikan di Zenodo (DOI:10.5281/zenodo.19759409)
