You are currently viewing Dokteroid, Main Dokter-Dokteran? Saya Bukan Dokter. Saya Juga Tidak Sedang Main Dokter-Dokteran

Dokteroid, Main Dokter-Dokteran? Saya Bukan Dokter. Saya Juga Tidak Sedang Main Dokter-Dokteran

0Shares

Dokteroid – Refleksi tentang profesi, ilmu pengetahuan, kritik terhadap terapis non-dokter, dan perjalanan lahirnya Tensional Medicine (TM).

Ada sebuah label yang beberapa kali diarahkan kepada saya:

“Dokteroid.”

Ada pula yang mengatakan:

“Tukang pijat tidak usah menggunakan istilah-istilah dokter.”

Bahkan ada yang menyebut:

“Sedang main dokter-dokteran.”

Saya memahami bahwa di balik komentar tersebut mungkin ada kekhawatiran tentang batas kewenangan profesi. Kekhawatiran seperti itu sebenarnya penting.

Namun, apakah menggunakan istilah ilmiah otomatis berarti seseorang sedang mengaku sebagai dokter?

Menurut saya, tidak.

Karena itu, tulisan ini bukan dibuat untuk membalas ejekan dengan ejekan. Saya justru ingin menjelaskan dengan tenang: siapa saya, apa yang saya kerjakan, apa batas saya, dan mengapa akhirnya lahir sebuah framework yang kami sebut Tensional Medicine.

Saya Memang Bukan Dokter

Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana.

Saya bukan dokter.

  • Saya tidak pernah mengaku sebagai dokter.
  • Saya tidak menggunakan gelar dokter.
  • Saya tidak menjalankan praktik kedokteran.
  • Dan saya tidak memiliki pendidikan kedokteran.

Jadi kalau ada yang mengatakan:

“Kamu bukan dokter.”

Jawaban saya sederhana:

Betul.

Saya memang bukan dokter.

Saya justru merasa penting untuk mengatakan hal tersebut secara terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai profesi maupun kewenangan saya.

Saya Bekerja Sesuai Kompetensi dan Perizinan yang Saya Miliki

Saya menjalankan pelayanan sesuai kompetensi dan perizinan yang saya miliki sebagai penyehat tradisional.

Saya tidak bermaksud mengambil alih peran dokter.

Saya juga tidak menganggap profesi saya lebih tinggi daripada profesi kesehatan lainnya.

  • Dokter memiliki kompetensinya.
  • Fisioterapis memiliki kompetensinya.
  • Perawat memiliki kompetensinya.
  • Penyehat tradisional memiliki ruang lingkupnya.

Masing-masing memiliki batas yang harus dihormati.

Menurut saya, menghormati batas profesi justru merupakan bagian dari tanggung jawab ilmiah dan etika.

Lalu Mengapa Saya Menggunakan Istilah Ilmiah?

Di sinilah mungkin sumber kesalahpahamannya.

Ketika saya berbicara tentang:

– biomekanika,
fascia,
mechanobiology,
mechanotransduction,
– extracellular matrix,
biotensegrity,
– precision medicine,

sebagian orang mungkin melihatnya sebagai “bahasa dokter”.

Padahal istilah-istilah tersebut bukan milik satu profesi.

Ilmu pengetahuan bersifat lintas disiplin.

Biomekanika bersinggungan dengan fisika, teknik, biologi, kedokteran, fisioterapi, ilmu olahraga, dan berbagai bidang lainnya.

Mechanobiology bahkan merupakan bidang interdisipliner yang mempertemukan biologi dengan mekanika.

Jadi, mempelajari atau membahas suatu bidang ilmu tidak otomatis berarti seseorang mengklaim memiliki kewenangan klinis pada seluruh bidang tersebut.

Di sinilah kita perlu membedakan:

Hak untuk belajar dan berdiskusi tentang ilmu

dengan

kewenangan untuk melakukan tindakan profesi tertentu.

Keduanya bukan hal yang sama.

Sedikit Tentang Latar Belakang Pendidikan Saya

Mungkin sebagian orang yang memberikan label “dokteroid” belum mengetahui latar belakang pendidikan saya.

Saya pernah menempuh pendidikan:

Fisika – Instrumentasi Elektronika, FMIPA Universitas Indonesia

dan kemudian

S1 Pendidikan IPA.

Saya tidak mengatakan bahwa latar belakang tersebut menjadikan saya ahli kedokteran.

Tentu tidak.

Namun pendidikan tersebut membentuk cara berpikir saya terhadap sistem, pengukuran, mekanika, energi, instrumentasi, dan hubungan sebab-akibat.

Dari sanalah ketertarikan saya terhadap biomekanika dan mechanobiology berkembang.

Kemudian, melalui pengalaman klinis dari ribuan klien, berbagai pelatihan terapi berlisensi, pembelajaran mandiri, literatur ilmiah, dan diskusi lintas disiplin, ketertarikan tersebut berkembang menjadi pertanyaan yang lebih spesifik:

Bagaimana beban mekanik dan adaptasi jaringan dapat berhubungan dengan fungsi serta keluhan nyeri yang dialami seseorang?

Pertanyaan tersebutlah yang kemudian membawa saya semakin jauh mempelajari fascia, mechanotransduction, extracellular matrix, biotensegrity, mechanobiology, dan berbagai bidang terkait.

Tetapi saya tetap menyadari satu hal:

Saya masih belajar.

Dan mungkin akan terus belajar.

Tensional Medicine Tidak Lahir Karena Saya Ingin Menjadi Dokter

Ini penting untuk diluruskan.

Tensional Medicine (TM)  tidak dibuat untuk “bermain dokter-dokteran”.

TM juga tidak dibuat untuk menggantikan kedokteran.

TM lahir bukan dari sekedar teori tapi dari pengalaman klinis ribuan klien di Griya Sehat QULBI.

Alhamdulillah, selama bertahun-tahun menangani ribuan klien, kami melihat pola-pola yang terus berulang.

  • Ada klien yang mengalami perbaikan sangat cepat.
  • Ada yang membutuhkan beberapa sesi.
  • Ada yang membaik tetapi kemudian kambuh.
  • Ada pula yang membutuhkan perubahan kebiasaan selama berbulan-bulan agar hasilnya lebih bertahan.
Baca Juga :  Polypharmacy & Lingkaran Setan Obat: Saat Kepercayaan Menjadi Jerat

Dari sana muncul pertanyaan:

Mengapa respons setiap klien berbeda?

Pertanyaan tersebut kemudian mendorong kami untuk mencari penjelasan melalui berbagai bidang ilmu.

Bukan mencari pembenaran.

Tetapi mencari pemahaman.

Dari proses panjang itulah kemudian lahir framework:

Tensional Medicine (TM)

Sebagai langkah awal dalam pengembangan keilmuan, kerangka konsep Tensional Medicine (TM) telah dipublikasikan secara terbuka melalui salah satu platform ilmiah global; Zenodo.

Dokumen ini diunggah oleh Saya, Endy Syaifullah, Founder Griya Sehat QULBI dalam bentuk preprint di Zenodo, sehingga dapat diakses, dipelajari, dan menjadi bahan diskusi oleh komunitas ilmiah secara lebih luas.

👉 https://doi.org/10.5281/zenodo.19759409

Dari Pengalaman Klinis Menuju Framework

Perjalanan framework Tensional Medicine (TM) bagi kami bukan:

Teori → mencari klien.

Justru sebaliknya:

Klien → observasi → pertanyaan → mencari penjelasan → framework → penelitian.

Karena itu, kami tidak ingin mengatakan bahwa pengalaman klinis kami otomatis membuktikan TM.

Tidak.

Pengalaman klinis dapat menjadi sumber hipotesis.

Tetapi hipotesis harus diuji.

Inilah titik penting yang sekarang sedang kami bangun.

“Mana EBM-nya?”

Pertanyaan ini sebenarnya sah.

Bahkan penting.

Kami tidak perlu alergi terhadap pertanyaan tersebut.

Sebaliknya, pertanyaan:

“Mana evidence-nya?”

seharusnya menjadi dorongan untuk bekerja lebih baik.

Karena itu, perjalanan TM sekarang bergerak dari:

Clinical Experience

Clinical Outcome

Framework

Outcome Documentation

Research

Evidence Generation

Kami sudah memiliki pengalaman klinis.

Kami memiliki outcome pasien.

Namun kami juga menyadari bahwa dokumentasi outcome tersebut selama bertahun-tahun belum dilakukan dengan sistematis seperti yang seharusnya.

Itulah pekerjaan rumah kami.

Dan justru itulah yang sedang kami perbaiki.

Kami Tidak Mengklaim Tensional Medicine Sudah Terbukti

Ini bagian yang menurut saya sangat penting.

Saya tidak ingin mengatakan:

“Karena pasien kami banyak yang membaik, berarti TM sudah terbukti secara ilmiah.”

Itu bukan cara berpikir ilmiah.

Outcome klinis yang baik adalah sesuatu yang menggembirakan.

Tetapi outcome tersebut perlu:

– didokumentasikan,
– diukur,
– dibandingkan,
– dianalisis,
– dan bila memungkinkan diuji melalui penelitian dengan metodologi yang tepat.

Karena itu, Tensional Medicine (TM) saat ini lebih tepat dipandang sebagai framework yang sedang dikembangkan dan diuji, bukan sebagai kebenaran ilmiah yang sudah final.

Jika penelitian di masa depan menunjukkan bahwa suatu bagian dari TM perlu diperbaiki, maka bagian tersebut harus diperbaiki.

Jika ternyata ada hipotesis yang tidak terbukti, maka harus diterima.

Begitulah ilmu pengetahuan bekerja.

Jadi, Apakah Saya “Dokteroid”?

Saya serahkan label itu kepada siapa pun yang ingin menggunakannya.

Tetapi saya ingin menjelaskan satu hal:

Saya tidak mengaku sebagai dokter.

Saya tidak sedang mengambil identitas dokter.

Saya tidak sedang menjalankan praktik kedokteran.

Saya sedang belajar ilmu yang saya perlukan untuk memahami pekerjaan saya dengan lebih baik.

Dan saya sedang menyusun pengalaman klinis tersebut menjadi sebuah clinical framework Tensional Medicine (TM) yang dapat dipelajari, dikritisi, dan—yang paling penting—diuji.

Kalau Disebut “Tukang Pijat”, Apakah Saya Tersinggung?

Tidak.

Jika seseorang menggunakan istilah tersebut untuk merendahkan, saya tentu tidak perlu menerimanya sebagai penghinaan.

Tetapi jika yang dimaksud adalah bahwa saya memang memiliki ruang lingkup praktik sebagai penyehat tradisional dengan kompetensi pijat, maka saya tidak malu dengan profesi tersebut.

Saya menghargai pekerjaan saya.

Yang saya tolak bukan identitas profesinya.

Yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa seseorang yang bekerja sebagai terapis atau penyehat tradisional otomatis tidak boleh mempelajari ilmu pengetahuan di luar label profesinya.

Baca Juga :  FASCIA Hack Bukan Chiropractic: Belajar dari Kasus Jonathan Buckelew

Seorang tukang kayu dapat mempelajari fisika material.

Seorang pelatih olahraga dapat mempelajari biomekanika.

Seorang terapis dapat mempelajari anatomi dan fisiologi.

Seorang insinyur dapat mempelajari biologi.

Tetapi mempelajari ilmu tersebut tentu tidak otomatis memberikan kewenangan profesi yang bukan miliknya.

Batas inilah yang harus tetap dijaga.

Saya Tidak Meminta Orang Percaya kepada Tensional Medicine

Justru sebaliknya.

Saya ingin mengatakan:

Jangan percaya kepada Tensional Medicine (TM) hanya karena saya yang menyampaikannya.

Baca literaturnya.

Kritisi framework-nya.

Tanyakan metodologinya.

Lihat outcome-nya.

Uji hipotesisnya.

Jika ada yang salah, tunjukkan di mana salahnya.

Jika ada data yang lebih kuat, mari kita gunakan data tersebut.

Karena bagi saya, kritik ilmiah jauh lebih berharga daripada pujian.

Kritik terhadap Gagasan Silahkan. Serangan terhadap Identitas Tidak Membantu Ilmu.

Saya terbuka terhadap kritik:

“Konsep ini belum memiliki RCT.”

Silakan.

“Variabel ini belum tervalidasi.”

Silakan.

“Hubungan mekanisme ini masih berupa hipotesis.”

Saya setuju.

“Framework ini perlu penelitian lebih lanjut.”

Saya sepakat.

Tetapi ketika kritik berubah menjadi:

“Dokteroid.”

“Tukang pijat.”

“Main dokter-dokteran.”

maka sebenarnya kita sudah meninggalkan diskusi ilmiah.

Karena yang seharusnya diuji adalah gagasan dan datanya, bukan sekadar label orang yang menyampaikannya.

Pada Akhirnya, Saya Tidak Perlu Menang dalam Perdebatan

Saya hanya ingin terus belajar.

Terus memperbaiki pelayanan.

Terus mendokumentasikan outcome.

Terus membaca penelitian.

Dan perlahan-lahan membawa pengalaman klinis Griya Sehat QULBI ke dalam bentuk yang lebih sistematis dan dapat diuji.

Mungkin Tensional Medicine akan berkembang menjadi sesuatu yang kuat.

Mungkin sebagian konsepnya akan berubah.

Mungkin beberapa hipotesisnya akan gugur.

Saya menerima semua kemungkinan tersebut.

Karena kerendahan hati ilmiah berarti bersedia mengubah pendapat ketika data yang lebih baik menunjukkan bahwa kita perlu berubah.

Dan mungkin inilah jawaban paling sederhana terhadap labeling Dokteroid dan semua label tadi:

Saya bukan dokter. Saya juga tidak sedang main dokter-dokteran. Saya adalah praktisi yang sedang belajar, bekerja sesuai kewenangan, dan mencoba mengubah pengalaman klinis menjadi hipotesis yang dapat diuji secara ilmiah.

Pada akhirnya, saya tidak meminta siapa pun percaya kepada saya.

Saya hanya mengajak siapa pun untuk menguji gagasan yang kami bangun.

Karena ilmu pengetahuan tidak membutuhkan siapa yang paling keras berbicara.

Ilmu pengetahuan membutuhkan pertanyaan yang baik, data yang jujur, metodologi yang benar, dan keberanian untuk menerima hasilnya—bahkan ketika hasil tersebut tidak sesuai dengan dugaan kita sendiri.

Referensi :

  • Sackett DL, Rosenberg WMC, Gray JAM, Haynes RB, Richardson WS.
    Evidence Based Medicine: What It Is and What It Isn’t. BMJ. 1996;312:71–72.
    → Referensi utama untuk menjelaskan bahwa EBM mengintegrasikan bukti ilmiah terbaik dengan clinical expertise dalam pengambilan keputusan klinis.
  • Jaalouk DE, Lammerding J. Mechanotransduction Gone Awry. Nature Reviews Molecular Cell Biology. 2009;10:63–73. → Landasan mechanotransduction: bagaimana sel menerjemahkan gaya mekanik menjadi sinyal biokimia dan bagaimana proses tersebut berhubungan dengan fungsi jaringan.
  • Humphrey JD, Dufresne ER, Schwartz MA.
    Mechanotransduction and Extracellular Matrix Homeostasis. Nature Reviews Molecular Cell Biology. 2014;15:802–812.
    → Sangat relevan untuk TM karena membahas hubungan antara mechanical cues, extracellular matrix, homeostasis, dan respons sel.
  • Ingber DE.
    The Architecture of Life. Scientific American. 1998;278(1):48–57.
    → Referensi klasik mengenai konsep tensegrity dalam arsitektur biologis.
  • Collins FS, Varmus H.
    A New Initiative on Precision Medicine. New England Journal of Medicine. 2015;372:793–795.
    → Mendukung pembahasan mengenai perkembangan pendekatan personal/precision dalam pelayanan kesehatan.
  • Hartvigsen J, Hancock MJ, Kongsted A, et al.
    What Low Back Pain Is and Why We Need to Pay Attention. The Lancet. 2018;391:2356–2367.
    → Penting untuk konteks muskuloskeletal dan pemahaman modern tentang low back pain.\
  • Syaifullah, E. (2026) Tensional Medicine Framework yang telah dipublikasikan di Zenodo (DOI:10.5281/zenodo.19759409)
0Shares

Griya Sehat QULBI

Spesialis Terapi Nyeri Bekasi

Tinggalkan Balasan