Bagaimana Cara Melawan Obesitas – Menelusuri akar obesitas dari para klien bahkan juga para dokter dan terapis dari kacamata Functional Medicine (FM) dan QULBI Habits
—
Ketika Pengobat pun Jadi Pasien
Ada kalimat yang awalnya hanya candaan, tapi lama-lama malah menggelitik hati:
“Pengobat kok gendut?”
Tapi setelah membaca studi Frontiers in Endocrinology (2025) yang menemukan bahwa lebih dari 60% dokter penyakit dalam di Indonesia mengalami obesitas, kalimat itu berubah jadi renungan.
Karena pengobat — baik dokter maupun terapis non-medis — sering kali sibuk menyelamatkan orang lain, tapi diam-diam kehilangan keseimbangan di tubuhnya sendiri.
Ini bukan soal penampilan.
Ini soal amanah.
—
⚙️ Hidup Serba Cepat, Tubuh Serba Lelah
Banyak pengobat hidup dalam ritme yang tubuhnya tidak diciptakan untuk itu:
lembur panjang, tidur seadanya, makan buru-buru, stres berkepanjangan, dan minim gerak.
Dalam Functional Medicine (FM), kondisi ini disebut HPA Axis Dysregulation — saat tubuh terus berada dalam mode waspada.
Kortisol naik.
Insulin ikut melonjak.
Lemak tersimpan terutama di perut.
Dan dari sinilah obesitas tumbuh — bukan karena malas, tapi karena tubuh kewalahan menghadapi hidup yang tidak seimbang.
—
Lemak adalah Bahasa Tubuh yang Menjerit
Obesitas dalam FM View adalah chronic low-grade inflammation, peradangan halus tapi terus-terusan.
Sel lemak yang membesar menghasilkan sitokin inflamasi yang mengganggu hormon, gula darah, dan tekanan darah.
Penelitian juga menemukan bahwa kurang aktivitas fisik adalah faktor risiko paling dominan.
Artinya, pengetahuan bukan jaminan seseorang akan hidup seimbang.
Karena akar masalahnya bukan “tidak tahu”, tapi tidak menjalani habit yang teratur.
—
Refleksi untuk Para Pengobat dan Terapis Non-Medis
Banyak pengobat — termasuk terapis non-medis — jatuh ke pola yang sama:
membantu orang lain, tapi lupa mengisi ulang tubuh dan dirinya sendiri.
Tubuh terapis adalah alat kerja.
Kalau terlalu berat, terlalu lelah, atau penuh adhesi (perlekatan) fascia yang dibiarkan, maka:
- sensitivitas sentuhan menurun
- energi vital cepat habis
- kualitas layanan ikut turun
- dan yang paling penting: amanah diri sendiri dilupakan
Sebelum mengurai simpul di tubuh orang lain, pengobat perlu memastikan bahwa tubuhnya sendiri tidak sedang penuh simpul yang diabaikan.
—
Kisah Perjalanan Pulang: Dari 104 kg Menjadi 74 kg
Perubahan Penulis, Endy Syaifullah, Founder & Terapis Griya Sehat QULBI — bukti nyata QULBI Habits bekerja, Alhamdulillah
Di antara semua pembahasan ilmiah, ada satu kisah yang paling dekat: perjalanan penulis sendiri. Karena apa gunanya bicara akar masalah, kalau diri sendiri belum pernah mencicipi perjalanan sembuh dari akarnya?
Maret 2024, berat badan penulis mencapai 104 kg.
Badan mudah lelah, fascia terasa berat, gerak jadi terbatas, dan napas sering memburu saat aktivitas.
Sebagai terapis dan pengobat yang aktif, kondisi itu bukan cuma mengganggu kesehatan, tapi juga menampar hati:
“Bagaimana bisa membersamai orang lain menuju sehat kalau tubuh sendiri ‘bengkak’ tak dalam keseimbangan?”
Sejak hari itu, perjalanan dimulai.
Bukan dengan diet keras atau olahraga brutal.
Tapi dengan kembali pada ritme hidup yang Allah Ta’ala rancang sejak awal.
- Thinking & Connecting Habits
Pikiran ditata—lebih tenang, lebih bersyukur.
Doa diperbanyak, hubungan diperbaiki.
Stres mulai jinak, makan emosional perlahan hilang.
- Eating Habits
Bukan diet.
Tapi ritme.
Makan sederhana yang mendukung energi, bukan mematikannya.
- System Habits: FASCIA Hack
Setiap sesi Balancing, tubuh seperti diajak pulang.
Touching membuka simpul fascia yang lama membatu.
Moving membuat tubuh terasa seperti mesin lama yang mulai hidup kembali.
- Output Habits
Intermitent Fasting (IF) 16:8, tidur teratur, dan bekam membuat hormon kembali sinkron.
Dan perlahan, Alhamdulillah angka itu turun.
Dari 104 kg → 98 kg → 93 kg → 88 kg → 82 kg → 76 kg → dan kini 74 kg. (‘Before-After’ silahkan lihat foto di atas)
Tubuh berubah, iya.
Tapi yang lebih penting:
cara hidup berubah, cara berpikir berubah, cara terhubung kepada Allah Ta’ala pun berubah.
Perjalanan ini bukan untuk dipamerkan, tapi untuk menunjukkan:
“Biidznillah, QULBI Habits bukan teori. Ia hidup. Ia bekerja. Ia mengubah.”
Dan siapapun pengobat, terapis, dokter, atau masyarakat luas…
bisa merasakannya jika mau kembali pada kebiasaan kecil yang penuh keseimbangan.
Perjalanan ini menjawab pertanyaan : Bagaimana Cara Melawan Obesitas melalui QULBI Habits dan ini bukanlah teori —
ia adalah jalan pulang yang nyata. Biidznillah
Perubahan penulis hanyalah bukti kecil bahwa tubuh itu patuh ketika diajak dengan lembut — bukan dipaksa.
—
FM View Bertemu QULBI Habits: Menyembuhkan Sistem, Bukan Gejala
Functional Medicine (FM) memandang obesitas sebagai disfungsi sistem—energi, hormon, peradangan, ritme tidur, pola makan, dan emosi.
QULBI menambahkan dimensi ruhani:
menata qalbu agar tubuh mengikuti.
Saat keduanya bertemu, lahirlah cara pandang baru:
bukan cuma mengobati nyeri, tapi mengembalikan keseimbangan hidup.
—
⚖️ QULBI Habits: Solusi Keseimbangan yang Sungguh Hidup
QULBI Habits memberikan tiga fondasi:
1. INPUT Habits – Thinking, Connecting, Eating
Menata pikiran agar tenang, memperkuat koneksi spiritual kepada Allah Ta’ala dan sosial kepada sesama, dan memilih asupan makanan alami yang dibutuhkan tubuh serta menjaga hal ‘toksik’ serta berlebih.
2. SYSTEM Habits – Balancing, Touching, Moving (FASCIA Hack)
Menyeimbangkan struktur tubuh, melepaskan adhesi (perlekatan) fascia, dan mengaktifkan gerak alami agar sistem sirkulasi tubuh; energi dan hormon kembali selaras.
3. OUTPUT Habits – Fasting, Sleeping, Cupping
Mengembalikan ritme biologis lewat puasa IF, tidur berkualitas, dan bekam sebagai pelepasan toksin fisik maupun emosional.
Saat sembilan kebiasaan ini dijalani, tubuh akan kembali pada fitrah keseimbangannya—
dan obesitas hanyalah fase yang perlahan memudar.
—
✨ Penutup: Mengobati Diri Agar Siap Mengobati Orang
Obesitas pada pengobat bukan aib.
Ia adalah alarm lembut dari tubuh.
Peringatan bahwa ritme hidup sudah melenceng jauh dari keseimbangan.
Dan penyembuhan sejatinya bukan soal menurunkan berat badan,
tapi mengembalikan diri pada habit hidup yang Allah Ta’ala sukai —
habit yang membawa tenang, sehat, dan keberkahan.
“QULBI Habits bukan sekadar gaya hidup sehat.
Ia adalah perjalanan pulang — dari tubuh yang berat menuju qalbu yang ringan.”
— Endy Syaifullah, Founder Griya Sehat QULBI
Referensi :
- Sally A. Nasution dkk. — Obesity and cardiovascular risk factors among internists in Indonesia. Frontiers in Endocrinology, 2025. DOI: 10.3389/fendo.2025.1594678
- Nurul D. Rahmawati, Helen Andriani, dkk. — Body mass index as a dominant risk factor for metabolic syndrome among Indonesian adults: a 6-year prospective cohort study. BMC Nutrition, 2024.
- Indah K. Murni, Dian C. Sulistyoningrum, dkk. — The association between dietary intake and cardiometabolic risk factors among obese adolescents in Indonesia. BMC Pediatrics, 2022.
- Harbuwono DS, Pramono LA, Yunir E, Subekti I. Obesity and central obesity in Indonesia. Med J Indonesia. 2018;27(2):114-20.
- Khanna D, et al. Obesity: A Chronic Low-Grade Inflammation and Its Markers. Int J Mol Sci. 2022.
- Hotamisligil GS. Inflammatory mechanisms linking obesity and metabolic disease. Nature Rev Immunol. 2017.
- Cani PD. From Gut Microbiota through Low-Grade Inflammation to Obesity. Nutrients. 2022.
- Manna P, Jain SK. Obesity, Stress, and Mental Health: Interconnected Pathways. Life. 2023.
- O’Rahilly S, Farooqi IS. Implementation of Obesity Science Into Clinical Practice. Circulation. 2024.
- “The Obesity’s Uptick among Physical Therapists.” Am Med Rehab J. 2025.
- Konten diskusi di FIIM Group oleh Dr Widya Murni, MARS
- Syaifullah, E. (2025). QULBI Method: Solusi Nyeri Holistik. Griya Sehat QULBI. www.qulbi.com
