Super Flu Masuk Indonesia – Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan oleh kabar super flu. Media melaporkan kasus pasien di Bandung yang terinfeksi Influenza A (H3N2) dan meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit rujukan. Pasien tersebut diketahui memiliki penyakit penyerta berat, seperti stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal.
Informasi ini penting digarisbawahi bukan untuk menimbulkan ketakutan, tapi untuk mengingatkan satu hal mendasar: virus bisa datang lebih cepat daripada kesiapan sistem tubuh kita.
Pada fase awal seperti ini, sebelum protokol matang dan intervensi medis tersedia merata, yang pertama kali bekerja bukan obat, bukan vaksin, melainkan tubuh itu sendiri.
—
Fase Paling Kritis dalam Pandemi: Saat Tubuh Bertahan Sendiri
Setiap infeksi selalu diawali oleh satu sistem yang sama: sistem imun bawaan (innate immunity).
Ia bekerja cepat, refleks, dan otomatis.
Namun cepat saja tidak cukup.
Bayangkan tubuh seperti sebuah kota yang diserang mendadak. Pasukan penjaga pasti turun duluan, tapi tanpa logistik yang cukup, pertahanan akan mudah runtuh atau justru menjadi kacau. Inilah yang sering terjadi pada fase awal infeksi virus pernapasan seperti super flu.
—
Functional Medicine View: Virus Sama, Respons Bisa Berbeda
Functional Medicine (FM) memandang infeksi bukan hanya dari sisi virus, tapi dari terrain tubuh.
Terrain adalah kondisi internal tubuh secara keseluruhan—nutrisi, inflamasi, metabolisme, imunitas, dan keseimbangan tegangan—yang menentukan apakah virus hanya lewat seperti tamu, atau berubah jadi badai yang merusak.
Kenapa satu orang hanya flu ringan, sementara yang lain jatuh berat?
Jawabannya sering ada di dalam tubuh itu sendiri:
- status nutrisi sebelum sakit
- beban inflamasi kronis
- fungsi metabolik
- usia dan penyakit penyerta
FM menyebut konsep ini sebagai nutritional immunity — bahwa kecukupan mikronutrien memengaruhi kualitas respons imun, terutama di fase awal infeksi.
Defisiensi vitamin dan mineral terbukti berkaitan dengan:
- respon imun yang tidak efektif
- inflamasi berlebihan
- dan luaran klinis yang lebih buruk
Artinya, banyak orang bukan kalah karena virusnya terlalu kuat, tapi karena datang ke medan infeksi dalam kondisi kekurangan bekal biologis.
—
QULBI View: Imunitas Tidak Bekerja di Ruang Hampa
QULBI memandang tubuh sebagai satu sistem tensional utuh (tensional integrity), bukan sekadar kumpulan organ dan sel.
Sel imun bekerja di dalam:
- jaringan fascia
- matriks ekstraseluler
- lingkungan mekanik yang penuh sinyal tegangan
Kalau sistem tegangan tubuh:
- terlalu kencang → sinyal stres dominan, inflamasi mudah berlebihan
- terlalu kendor → respons imun lambat
- tidak seimbang → koordinasi sistem kacau
Maka dari QULBI View:
imunitas bukan hanya soal kuat atau lemah, tapi selaras atau tidaknya sistem tubuh menahan beban.
Virus adalah stres biologis.
Respons imun adalah terjemahan sinyal stres itu.
Dan kualitas terjemahannya sangat dipengaruhi oleh keseimbangan tegangan tubuh.
—
Nutrisi: Fondasi Agar Sistem Tidak Ambruk
Vitamin dan mineral bukan obat untuk super flu.
Bukan juga klaim kebal.
Tapi mereka adalah fondasi agar sistem imun bisa bekerja sesuai desainnya, bukan secara liar atau boros.
Perannya sederhana tapi krusial:
- Vitamin C → mendukung respon awal sel imun
- Vitamin D → mengatur modulasi respon imun
- Zinc → regulator sinyal inflamasi
- Magnesium → stabilitas energi dan sistem saraf
- Selenium → pelindung dari kerusakan oksidatif berlebihan
Dalam QULBI View, mikronutrien ini berfungsi sebagai penjaga keseimbangan sistem, agar perang biologis tidak merusak tubuh sendiri.
—
QULBI Method: Balance Your Tension
Menghadapi ancaman seperti super flu, QULBI tidak menawarkan jalan pintas.
Yang ditawarkan adalah kesiapan sistem tubuh secara utuh.
QULBI Method terdiri dari tiga pilar utama:
1. QULBI Check-Up: Membaca Medan Tempur Tubuh
Sebelum bicara imun, QULBI selalu mulai dari satu pertanyaan sederhana:
apakah tubuh sedang seimbang atau sedang menahan beban diam-diam?
QULBI Check-Up bertujuan mendeteksi:
- ketidakseimbangan postur
- rotasi panggul dan tulang belakang
- pola tegangan fascia
- stres mekanik kronis yang sering tidak disadari
- ketidakseimbangan fungsi organ dengan QRMA
Dalam konteks infeksi seperti super flu, ketegangan struktural ini penting karena:
- stres mekanik kronis = sinyal stres biologis laten
- sistem saraf dan imun bekerja di atas “tanah” yang sudah tidak stabil
FM menyebutnya terrain.
QULBI membacanya dari struktur dan tegangan tubuh.
2. FASCIA Hack: : Menormalkan Sistem Tegangan
Setelah masalah dikenali, QULBI masuk ke inti terapi: FASCIA Hack.
FASCIA Hack adalah inti terapi QULBI yang mengintegrasikan:
- Balancing → menata ulang keseimbangan struktur
- Touching → mengurai adhesi fascia dan menenangkan sistem
- Moving → mengintegrasikan gerak tanpa merusak keseimbangan
Dalam situasi stres biologis seperti infeksi:
- fascia yang kaku memperkuat sinyal stres
- fascia yang tidak seimbang membuat respon imun tidak efisien
- tubuh mudah jatuh ke inflamasi berlebihan atau justru respon lambat
Tujuannya bukan membuat tubuh “keras”, tapi membuatnya:
tidak kencang, tidak kendor — tapi selaras
Dalam kondisi ini, sistem imun, saraf, dan metabolik bisa bekerja lebih efisien.
3. QULBI Habits: Ketahanan Dibangun dari Kebiasaan
Ketahanan Tidak Dibangun Sekali Terapi
QULBI memahami satu hal penting:
terapi tanpa kebiasaan hanya bersifat sementara.
QULBI Habits menjaga keseimbangan tubuh melalui:
- pola makan dan nutrisi yang masuk akal
- pola gerak harian yang selaras struktur
- istirahat dan regulasi stres
- kebiasaan hidup yang menurunkan inflamasi kronis
Dalam konteks super flu:
- QULBI Habits membantu tubuh tidak datang ke medan infeksi dalam kondisi defisit
- bukan untuk kebal, tapi untuk tidak rapuh
—
Penutup
Kasus Super Flu Masuk Indonesia mengingatkan kita pada satu kenyataan sederhana:
virus bisa datang lebih cepat daripada solusi medis.
Di fase seperti itu, tubuh adalah benteng pertama dan terakhir.
Pendekatan terbaik bukan ekstrem ke satu sisi, melainkan berlapis:
- fondasi nutrisi yang cukup
- sistem tegangan tubuh yang seimbang
- dan intervensi medis berbasis bukti
Karena tubuh yang paling tahan bukan yang paling kebal,
melainkan yang paling selaras menahan beban kehidupan.
—
Referensi :
📌 Referensi Berita tentang Super Flu di Indonesia
- Detik Health. (2025, Januari). Fakta-fakta pasien super flu yang meninggal di Bandung. Diakses dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8300308/fakta-fakta-pasien-super-flu-yang-meninggal-di-bandung
- Detik Health. (2025, Januari). Jatim catat 23 kasus! Ini sebaran 62 pasien super flu di Indonesia. Diakses dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8287688/jatim-catat-23-kasus-ini-sebaran-62-pasien-super-flu-di-indonesia
- Detik Health. (2025, Januari). Pasien Bandung meninggal, kenapa super flu fatal pada orang dengan komorbid? Diakses dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8298995/pasien-bandung-meninggal-kenapa-super-flu-fatal-pada-orang-dengan-komorbid/amp
📌 Referensi Ilmiah tentang Nutrisi dan Respons Imun
- Calder, P. C., Carr, A. C., Gombart, A. F., & Eggersdorfer, M. (2020). Nutrition, immunity and COVID-19. BMJ Nutrition, Prevention & Health. https://doi.org/10.1136/bmjnph-2020-000085
- Gombart, A. F., Pierre, A., & Maggini, S. (2020). A review of micronutrients and the immune system: mechanisms of action and insights into immune-enhancing effects. Nutrients, 12(1), 236. https://doi.org/10.3390/nu12010236
- Jayawardena, R., Sooriyaarachchi, P., Chourdakis, M., Jeewandara, C., & Ranasinghe, P. (2020). Enhancing immunity in viral infections, with special emphasis on COVID-19: A review. Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews, 14(4), 367–382. https://doi.org/10.1016/j.dsx.2020.04.015
- Beck, M. A., Handy, J., & Levander, O. A. (2004). Host nutritional status: the neglected virulence factor. Journal of Infectious Diseases, 189(7), 1059–1060. https://doi.org/10.1086/382291
- Iovino, P., Stanciu, C., Di Mauro, V., & Spagnoletta, A. (2023). Micronutrient deficiencies and immune dysfunction in respiratory infections. Frontiers in Immunology, 14, 1160657. https://doi.org/10.3389/fimmu.2023.1160657
📌 Referensi Tambahan tentang Fascia dan Tensional Integrity (QULBI View)
- Schleip, R., Findley, T. W., Chaitow, L., & Huijing, P. A. (2012). Fascia: The Tensional Network of the Human Body. Elsevier.
- Ingber, D. E. (2006). Cellular mechanotransduction: putting all the pieces together again. The FASEB Journal, 20(7), 811–827. https://doi.org/10.1096/fj.05-5424rev
- Standring, S. (2016). Gray’s Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice (41st ed.). Elsevier.
- Konten diskusi di Indonesian Society of Lifestyle & Interdiciplanary Medicine Group oleh dr Oscar Sugi, Sp.PD
- Syaifullah, E. (2025). QULBI Method sebagai Solusi Nyeri Holistik. Griya Sehat QULBI. www.qulbi.com
