Long COVID Gejala – Kamu pernah dengar cerita orang yang sudah negatif COVID bertahun-tahun…
tapi masih merasa capek terus, otak nge-blur, napas pendek, atau otot kaku kayak habis angkat kulkas?
Rasanya seperti sudah keluar dari badai, tapi ombaknya masih terus nyusul dari belakang.
Nah, ilmuwan akhirnya menemukan salah satu “pelaku misterius” yang bikin Long COVID sulit hilang:
Microclot–NETs, duo kecil bandel yang nongkrong di pembuluh darah mikro.
Dan di sinilah QULBI masuk — karena ternyata, efeknya akhirnya sampai ke fascia, struktur tubuh yang selama ini jadi akarnya postur, nyeri, gerak, dan aliran.
—
Apa itu Microclot–NETs?
Dan kenapa baru ketahuan sekarang?
Bayangin ada gumpalan super-mikro di pembuluh darah kapiler.
Nah, gumpalan ini lengket karena ditempeli NETs (Neutrophil Extracellular Traps) — jaring lengket yang dilepas sel imun untuk menangkap patogen.
Masalahnya?
Jaring ini bukannya cuma nangkep virus…
tapi juga bikin darah jadi “lumpur halus” yang susah ngalir di kapiler.
Studi terbaru menemukan:
- jumlah Microclot–NETs pada pasien Long COVID hingga 20x lebih tinggi
- Microclot menempel secara fisik pada NETs (temuan pertama dalam sejarah)
- AI mampu mendeteksi pola Microclot–NET dengan akurasi 91%
- Efeknya: aliran darah mikro tersumbat → oksigen turun → organ kelaparan oksigen
Dari sinilah muncul kabut otak, heart racing, fatigue, nyeri otot, dan keluhan misterius lain yang bikin dokter geleng-geleng.
—
Dari Microclot ke Kapiler → Lalu Menyerang Fascia
Di sinilah puzzle mulai terangkai.
Fascia itu bukan cuma “pembungkus daging”.
Fascia adalah extracellular matrix (ECM) terbesar tubuh—sebuah jaringan hidup yang:
- punya kapiler super halus
- kaya sensor mekanik
- sangat responsif pada tekanan & aliran
- bekerja sebagai “wifi internal tubuh” yang menghubungkan otot–organ–saraf
Kalau kapiler fascia tersumbat microclot?
Bayangin rumah yang listriknya 220V… tapi tiba-tiba turun jadi 80V.
Semua sistem jadi:
- lambat
- kaku
- kurang nutrisi
- kurang oksigen
- gampang nyeri
Inilah kenapa banyak pasien Long COVID merasa:
- badan berat
- otot kaku
- postur makin kacau
- pernapasan tidak efisien
- punggung kayak “ketarik”
Karena fascia kehilangan aliran, kehilangan hidrasi, dan kehilangan elastisitas.
—
Hubungannya dengan Piezoelectric Fascia (Konsep Oschman)
Oschman menjelaskan bahwa fascia punya sifat piezoelectric —
artinya gerakan bisa memicu muatan listrik biologis yang mengaktifkan penyembuhan jaringan.
TAPI…
Kalau fasciamu “kehausan oksigen” akibat microclot–NETs?
Mekanotransduksi tubuh melemah.
Sinyal-sinyal penyembuhan jadi “lemot”.
Ini seperti memencet tombol lampu, tapi listrik di rumah kecil… lampunya cuma redup.
Dan di sinilah gerakan benar (Moving) ala FASCIA Hack jadi obat —
karena dia merangsang aliran, hidrasi, dan listrik fascia secara lembut tanpa memaksa.
—
Kenapa Banyak Tes Tidak Menangkap Microclot–NETs?
Karena microclot terlalu kecil.
D-Dimer hanya mengukur produk degradasi fibrin, bukan gumpalan yang belum terurai.
Jadi, pasien bisa:
- gejala berat
- saturasi buruk
- nyeri otot
- otak nge-fog
… tetapi D-Dimer tetap normal.
Makanya, QULBI menyarankan QRMA dulu —
karena cek ini memberikan gambaran:
- sistem peredaran
- oksigenasi jaringan
- inflamasi
- fungsi saraf
- detox pathway
- energi sel (ATP)
QRMA = screening cepat yang nge-capture pola sistemik, bukan angka terisolasi.
Ini sejalan dengan artikel QULBI:
“Kenapa QULBI memilih QRMA sebagai check-up utama, bukan MCU.”
—
Long COVID Tidak Cuma Soal Virus — Tapi Soal Disfungsi Sistem Tubuh
Inilah inti dari pendekatan QULBI:
Long COVID adalah multi-system imbalance
yang mencakup pernapasan, vaskular, saraf, fascia, metabolik, imun, dan emosional.
Itulah sebabnya kalau cuma minum obat anti-inflamasi…
keluhan tidak hilang-hilang.
—
Jalan Keluar Holistik ala QULBI
Nah kak, bagian ini sering bikin klien terkejut:
Ternyata memperbaiki tubuh itu tidak selalu berat.
Kadang cukup mengembalikan alur fisiologis normal tubuh.
Kondisi microclot–fascia itu kompleks, tapi bukan tanpa jalan keluar.
Di sinilah QULBI Method; Restore Your Balance ! hadir untuk mengembalikan keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa, lewat tiga komponen utama:
—
(1) QULBI Check-Up (Postur & QRMA)
QULBI Check Up memetakan:
- postur imbalances
- kekentalan darah,
- status inflamasi,
- metabolisme energi sel,
- oksigenasi jaringan,
- perfusi mikro.
Supaya terapi tepat sasaran.
—
(2) FASCIA Hack (Balancing – Touching – Moving)
Inilah FASCIA Hack, senjata paling tepat untuk membangunkan fascia dari “mati suri”.
a. Balancing:
Membuka kuncian struktural yang membuat kapiler tertekan.
b. Touching:
Melepas adhesi fascia → membuka jalur cairan interstisial → mengurangi tekanan jaringan → membantu perfusi membaik.
Pikirkan seperti:
Membersihkan lumpur supaya air bisa mengalir lagi.
c. Moving:
Mengaktifkan ulang sifat piezoelectric fascia dengan gerakan terukur—bukan gerakan random yang malah memicu PEM.
FASCIA Hack adalah:
restart system
untuk jaringan yang mati suri karena microclot.
—
(3) QULBI Habits (Input – System – Output)
QULBI Habits adalah 3 Kebiasaan Sehat Holistik ala QULBI :
Input Habits
- Eating: herbal anti-inflamasi dan detox vaskular (jahe, kunyit, pegagan, Moringa).
- Thinking: mindset healing dari Qalbu.
- Connecting: doa, ibadah, hubungan sosial yang sehat.
System Habits
FASCIA Hack dijadikan kebiasaan ringan harian.
Output Habits
Pembuangan toksin melalui:
- puasa,
- tidur,
- cupping.
—
Penutup
Kerusakan microcirculation pasca COVID itu nyata.
Microclot & NET membuat tubuh masuk mode darurat.
Dan fascia, jaringan paling luas di tubuh, jadi korban utamanya. Inilah Long COVID Gejala yang harus kita pahami.
Tapi bukan berarti jalan buntu.
Dengan pemetaan QRMA + FASCIA Hack + QULBI Habits,
tubuh bisa pulih “bi’idznillah”—pelan tapi pasti.
Karena kesehatan itu bukan sekadar “tidak sakit”.
Tapi kembali hidup.
—
Referensi :
A. Long COVID, Microclots, dan NETs
- Pretorius E, Kell DB. “The Vascular Endothelial Damage Hypothesis for Long COVID.” Cardiovascular Diabetology (2022).
- Grobbelaar LM et al. “SARS-CoV-2 spike protein causes abnormal blood clotting.” Journal of Thrombosis and Haemostasis (2021).
- Kruger A et al. “Persistent clotting protein pathology in Long COVID.” International Journal of Environmental Research and Public Health (2021).
- Walker JM et al. “NETs in COVID-19: their role in vascular dysfunction.” Journal of Experimental Medicine (2020).
- Lindsey BB et al. “Disturbances in immune–coagulation interface in Long COVID.” Nature Immunology (2024).
- Zuo Y et al. “Neutrophil extracellular traps in COVID-19.” JCI Insight (2020).
- Australia Long COVID Study (2024). Temuan AI-model untuk microclot–NET recognition.
—
B. Kapiler, Endothelial Dysfunction, dan Hypercoagulation
- Goshua G et al. “Endotheliopathy in COVID-19.” The Lancet Haematology (2020).
- Libby P, Lüscher T. “COVID-19 is, in the end, an endothelial disease.” European Heart Journal (2020).
- Rovas A et al. “Microvascular flow alterations in COVID-19.” Critical Care (2020).
- Ackermann M et al. “Pulmonary vascular microangiopathy.” NEJM (2020).
—
C. Fascia, ECM, Piezoelectricity, Mechanical Signaling
- Oschman JL. Energy Medicine: The Scientific Basis. (Buku ilmiah rujukan utama fascia–ECM).
- Langevin HM. “Connective tissue: a bodywide signaling network?” Medical Hypotheses (2006).
- Schleip R et al. Fascia: The Tensional Network of the Human Body (2012).
- Fede C et al. “Fascia Science and Clinical Applications.” Journal of Bodywork and Movement Therapies (2021).
- Pienta KJ, Coffey DS. “Cellular tensegrity and mechanotransduction.” Journal of Cellular Biochemistry (1991).
- Ingber DE. “Tensegrity-based mechanotransduction.” Annual Review of Physiology (1997).
—
D. Hubungan Sirkulasi Mikro, Fascia & Chronic Pain
- R. Schleip. “Fascial stiffness, sympathetic activation, and chronic pain.” Frontiers in Physiology (2019).
- Findley TW. “Fascial dysfunction in myofascial pain.” Journal of Bodywork and Movement Therapies (2018).
- Wilke J et al. “Fascia and pain—new findings.” Pain Reports (2018).
—
E. Functional Medicine, Metabolic Inflammation, dan Lifestyle Interventions
- IFM (Institute for Functional Medicine). COVID-19 and Post-Acute Sequelae Guidelines (2023).
- Calder PC. “Omega-3 fatty acids and inflammation.” Nutrients (2020).
- Pedersen BK. “Muscle contraction releases anti-inflammatory myokines.” Journal of Applied Physiology (2019).
- Cani PD. “Gut permeability & metabolic endotoxemia.” Gut (2021).
—
F. Artikel Pendukung untuk Microclots & Oxygen Delivery
- Sayed A et al. “Hypoxia & microcirculation in Long COVID.” Clinical Science (2023).
- Maiese K. “Oxygen stress, mTOR and cell survival pathways in viral infections.” Cellular Signalling (2022).
—
G. Internal QULBI
- Syaifullah, E. (2025). QULBI Method: Solusi Nyeri Holistik. Griya Sehat QULBI. www.qulbi.com
