Di dunia pengobatan Timur, kesehatan bukan sekadar soal tidak adanya nyeri atau penyakit, tapi tentang keseimbangan. Tubuh itu seperti bangunan dengan fondasi yang seimbang; kalau satu sisi goyah, seluruh struktur bisa ikut miring dan rentan roboh.
Pengobatan Timur vs. Pengobatan Barat: Mana yang Lebih Tepat?
Dua pendekatan utama dalam dunia kesehatan, Pengobatan Barat dan Pengobatan Timur, memiliki cara pandang yang berbeda terhadap penyakit:
- Pengobatan Barat fokus pada gejala, menggunakan obat-obatan dan prosedur medis untuk menekan atau menghilangkan gejala tanpa selalu mencari akar masalahnya. Misalnya, jika seseorang mengalami nyeri sendi, dokter akan memberikan obat nyeri, antiinflamasi tanpa mencari tahu penyebab mendasar dari peradangan tersebut.
- Pengobatan Timur berfokus pada keseimbangan tubuh secara holistik, meyakini bahwa penyakit terjadi akibat ketidakseimbangan dalam sistem tubuh. Jadi, bukan hanya bagian tubuh tertentu yang diperbaiki, tetapi seluruh mekanisme tubuh dikembalikan ke kondisi optimalnya.
Dokter Syafiq (Seminar “Konsep Kesehatan vs. Penyakit dalam Pengobatan Timur”) menjelaskan bahwa salah satu konsep utama dalam Pengobatan Timur adalah ketidakseimbangan dalam 6 faktor subklinis yang menjadi akar penyebab nyeri atau penyakit. Jika keenam faktor ini tetap dalam kondisi seimbang, tubuh akan berada dalam keadaan sehat. Namun, jika salah satu atau beberapa dari mereka terganggu, maka akan muncul kondisi yang mengarah pada penyakit kronis.
6 Subklinis Penyebab Nyeri atau Penyakit dan Keterkaitannya
1. Ketidakseimbangan Asam-Basa (Acid/Base Balance) → Memicu Stres Asam (Acid Stress)
- Problem: Tubuh harus menjaga keseimbangan antara kadar asam dan basa untuk berfungsi optimal. Jika tubuh terlalu asam akibat pola makan buruk, stres, atau infeksi, sel-sel tubuh mengalami tekanan tinggi.
- Contoh: Asidosis metabolik yang membuat tubuh rentan terhadap kelelahan, nyeri sendi, dan peradangan kronis.
- Keterkaitan dengan Subklinis Lainnya:
– Ketidakseimbangan ini menciptakan stres asam (acid stress) yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.
– Stres asam juga dapat memicu metabolisme anaerobik, karena lingkungan asam menghambat proses pembentukan energi secara aerobik. - Solusi: Mengonsumsi makanan alkali seperti lemon, mengurangi makanan asam seperti gula dan junk food, serta mengelola stres dengan baik.
2. Metabolisme Anaerobik (Anaerobic Metabolism) → Menyebabkan Stres Oksidatif (Oxidative Stress)
- Problem: Dalam kondisi ideal, tubuh menggunakan metabolisme aerobik yang menghasilkan energi dengan lebih efisien. Namun, ketika tubuh berada dalam kondisi stres atau kekurangan oksigen, tubuh mulai menggunakan metabolisme anaerobik, yang menghasilkan lebih banyak asam laktat dan radikal bebas.
- Contoh: Orang yang sering merasa lelah, mengalami pegal otot berkepanjangan, atau mudah kram sering kali mengalami dominasi metabolisme anaerobik.
- Keterkaitan dengan Subklinis Lainnya:
– Metabolisme anaerobik meningkatkan produksi radikal bebas, yang mempercepat stres oksidatif dan mempercepat penuaan sel.
– Kondisi ini memperburuk inflamasi kronis, karena tubuh harus terus-menerus menangani akumulasi zat-zat beracun yang merusak jaringan. - Solusi: Perbaiki pola napas, lakukan olahraga ringan yang meningkatkan oksigenasi, serta terapi seperti stretching dan bekam untuk membantu detoksifikasi.
3. Stres Oksidatif (Oxidative Stress) → Memicu Peradangan Kronis (Chronic Inflammation)
- Problem: Radikal bebas yang tidak terkontrol dalam tubuh menyebabkan kerusakan sel dan jaringan/fascia.
- Contoh: Penuaan dini, nyeri sendi, kelelahan kronis, serta meningkatnya risiko penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan kanker.
- Keterkaitan dengan Subklinis Lainnya:
– Stres oksidatif menciptakan kerusakan jaringan dan inflamasi kronis, karena tubuh terus-menerus berusaha memperbaiki sel yang rusak.
– Jika inflamasi ini tidak terkendali, maka akan terjadi kerusakan pada jaringan ikat (fascia), yang memperburuk postur tubuh dan menyebabkan nyeri kronis. - Solusi: Konsumsi makanan kaya antioksidan seperti teh herbal dan sayuran, serta lakukan terapi pengeluaran toksin seperti bekam dan puasa.
4. Kelebihan Kalsium Bebas (Free Calcium Excess) → Memperparah Peradangan Kronis (Chronic Inflammation)
- Problem: Kalsium yang seharusnya digunakan untuk memperkuat tulang justru menumpuk di jaringan lunak, menyebabkan fascia adhesions.
- Contoh: Orang dengan kalsifikasi jaringan lunak sering mengalami sendi yang kaku, nyeri otot berkepanjangan, atau kondisi seperti kalkifikasi tendon yang menghambat pergerakan.
- Keterkaitan dengan Subklinis Lainnya:
– Kalsium bebas yang berlebihan memperparah inflamasi kronis, karena tubuh menganggapnya sebagai partikel asing yang harus dihancurkan.
– Peradangan kronis ini berkontribusi pada kerusakan jaringan ikat, mempercepat degenerasi fascia.
- Solusi: Menyeimbangkan asupan magnesium dan vitamin K2 agar kalsium terserap di tempat yang benar, serta menggunakan teknik terapi FASCIA Hack untuk melepas ketegangan fascia.
5. Peradangan Kronis (Chronic Inflammation) → Memicu Kerusakan Jaringan Ikat/Fascia (Connective Tissue Breakdown & Fascia Adhesions)
- Problem: Inflamasi seharusnya terjadi sementara sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Namun, jika terjadi terus-menerus, inflamasi justru merusak jaringan sehat.
- Contoh: Penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, osteoarthritis, serta berbagai bentuk nyeri kronis.
- Keterkaitan dengan Subklinis Lainnya:
– Inflamasi kronis menghancurkan jaringan ikat (Fascia) yang membuat tubuh rentan terhadap cedera.
– Jika jaringan ikat rusak, tubuh kehilangan stabilitas struktural, menyebabkan postur tubuh memburuk dan meningkatkan tekanan pada sistem gerak. - Solusi: Hindari makanan pro-inflamasi seperti gula dan minyak nabati olahan, serta gunakan teknik FASCIA Hack untuk mengembalikan fleksibilitas fascia.
6. Kerusakan Jaringan Ikat/Fascia (Connective Tissue Breakdown & Fascia Adhesions) → Memicu Penyakit & Gangguan Struktural
- Problem: Jaringan ikat (Fascia) berperan dalam menopang struktur tubuh. Jika rusak, tubuh tidak bisa bergerak dengan optimal, menyebabkan berbagai disfungsi biomekanik.
- Contoh: Cedera berulang, skoliosis, nyeri punggung bawah, dan gangguan mobilitas.
- Keterkaitan dengan Subklinis Lainnya:
– Jaringan ikat (Fascia) yang lemah memperparah inflamasi kronis, karena tubuh terus-menerus mencoba memperbaiki kerusakan tetapi tidak mendapatkan cukup dukungan.
– Ketika jaringan ikat (Fascia) tidak stabil, akibat Adhesions (Perlekatan) maka tubuh semakin sulit menjaga keseimbangan asam-basa, metabolisme, dan stres oksidatif, mempercepat siklus penyakit. - Solusi: Teknik FASCIA Hack yang mengembalikan keseimbangan struktur tubuh melalui Balancing, Touching, dan Moving.
Griya Sehat QULBI: Solusi Menyeimbangkan 6 Subklinis Penyebab Nyeri atau Penyakit
Di Griya Sehat QULBI, konsep keseimbangan ini diterapkan melalui QULBI Habits, yang berfokus pada penerapan kebiasaan sehat holistik untuk pemulihan tubuh secara menyeluruh. Menyeimbangkan Asam-Basa → Dengan Input Habits (Eating & Leeching)
Memperbaiki Metabolisme → Dengan System Habits (Balancing & Moving)
Mengatasi Stres Oksidatif & Peradangan → Dengan Output Habits (Fasting & Cupping)
Mengembalikan Keseimbangan Fascia & Jaringan Ikat → Dengan FASCIA Hack (Balancing, Touching, Moving)
Jika ingin sehat bebas nyeri, jangan hanya mengatasi gejala. Perbaiki keseimbangan tubuh dari akarnya! QULBI Habits adalah jawabannya. Biidznillah
Referensi :
- Dr. Syafiq (Griya Seroja) – Konsep Kesehatan vs. Penyakit dalam Pengobatan Timur.
- Dr. Jeffrey Bland – The Disease Delusion (Functional Medicine & root-cause healing).
- NCBI & PubMed – Studi tentang stres oksidatif, inflamasi kronis, dan penyakit degeneratif.
- Robert Schleip, et al. – The Role of the Fascia in the Control of Movement (peran fascia dalam kesehatan).
- Syaifullah, E. (2025). QULBI Method: Solusi Nyeri Holistik.
- Griya Sehat QULBI.
www.qulbi.com – Website resmi Griya Sehat QULBI.