You are currently viewing Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal: Pondasi Seorang Terapis Ala QULBI

Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal: Pondasi Seorang Terapis Ala QULBI

0Shares

Menjadi Terapis Adalah Amanah – Pernah nggak kita sebagai terapis merasa semangat banget ingin menolong keluhan sakit seseorang, tapi di tengah jalan sadar kalau belum cukup paham caranya? Itulah kenapa para ulama besar sejak dulu menekankan: “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal.”

Kalimat ini bukan sekadar slogan, tapi prinsip hidup yang melandasi segala amal — baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Tanpa ilmu, amal bisa salah arah. Tanpa ilmu, niat baik bisa berubah jadi mudarat.

Ilmu: Cahaya Sebelum Langkah

Imam Bukhari rahimahullah sampai membuat bab khusus dalam Shahih Al-Bukhari berjudul “Al-‘Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-‘Amal” — ilmu sebelum ucapan dan perbuatan. Beliau lalu mengutip firman Allah Ta’ala:

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan) selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Perhatikan urutannya. Allah Ta’ala tidak langsung memerintahkan beramal, tapi memerintahkan berilmu dulu. Karena ilmu adalah cahaya yang menuntun amal agar tepat sasaran dan diterima oleh-Nya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata:

“Andai Allah Ta’ala tidak menurunkan hujjah bagi manusia kecuali Surah Al-‘Ashr, niscaya itu sudah cukup.”

Kenapa cukup? Karena Surah Al-‘Ashr sudah merangkum empat inti kehidupan: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Tapi empat hal ini cuma bisa dijalankan kalau seseorang punya ilmu yang benar.

Rasulullah ﷺ dan Teladan Tentang Keahlian

Suatu ketika sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu jatuh sakit. Rasulullah ﷺ menjenguknya, meletakkan tangan beliau di dada Sa’ad, lalu bersabda:

“Engkau menderita penyakit jantung. Temuilah Al-Harits bin Kaladah dari Bani Tsaqif, karena ia adalah seorang tabib. Hendaknya ia mengambil tujuh buah kurma ‘ajwah, ditumbuk beserta bijinya, lalu meminumkanmu dengannya.”
(HR. Abu Daud no. 3875, sanadnya dha’if)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mengaku sebagai tabib, meski beliau tahu ramuan obat. Beliau mengarahkan sahabatnya kepada ahlinya, yakni Al-Harits bin Kaladah, yang dikenal sebagai dokter pada masa itu.

Ini pelajaran luar biasa: Rasulullah ﷺ tidak mengambil alih bidang yang bukan keahliannya. Beliau memberi arah secara umum (wahyu), tapi menyerahkan teknisnya kepada yang ahli (pengalaman dan pengetahuan duniawi).

Beliau bahkan bersabda:

“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan adab ilmiah yang mendalam — bahwa setiap bidang punya ahlinya, dan yang paling berilmu adalah yang tahu batas ilmunya.

Ilmu Sebelum Amal: Landasan Terapis QULBI

Menjadi terapis itu bukan soal “bisa mijat” atau “tahu titik nyeri”. Tapi bagaimana memahami sistem tubuh manusia, membaca bahasa fascia, dan mengembalikan keseimbangan dengan cara yang ilmiah dan amanah.

Karena tanpa ilmu, bisa bahaya. Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras:

“Siapapun yang mencoba-coba mengobati orang, padahal ia tidak dikenal ahli pengobatan, maka ia wajib bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi akibat tindakannya.”
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Ibnu Rusyd menambahkan:

“Tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa bila ia bukan seorang ahli pengobatan, maka ia wajib menanggung kerusakan akibat tindakannya, karena ia telah bertindak melampaui batas.”
(Bidayatul Mujtahid, 2/418)

Makanya, seorang terapis sejati nggak boleh main-main.
Ia harus totalitas, bukan sekadar profesi sambilan.
Karena setiap tindakan di tubuh pasien bukan hanya urusan teknis — tapi juga urusan amanah di hadapan Allah Ta’ala.

Baca Juga :  Penyebab Kanker: Kemoterapi Bisa Bangunkan Zombie Kanker? Ini Fakta Ilmiahnya!

Keseimbangan Ilmu: Jalan Para Ahli Pengobatan

Dalam dunia terapi dan pengobatan, prinsip ini sangat relevan. Seorang dokter, tabib, atau terapis tidak bisa hanya bermodal niat baik. Ia harus berilmu sebelum berbicara, menyentuh dan mengobati tubuh klien.

Karena tubuh manusia bukan sekadar daging dan tulang — ia sistem kehidupan yang rumit, penuh jaringan, saraf, dan keseimbangan. Menyentuh tubuh berarti menyentuh ciptaan Allah Ta’ala yang penuh rahasia, dan itu tidak bisa dilakukan dengan asal coba-coba.

Di Griya Sehat QULBI, prinsip ini menjadi pondasi utama QULBI Method:
Sebelum menyentuh, kita meneliti.
Sebelum berbicara, kita memahami.
Sebelum mengarahkan klien, kita memastikan bahwa setiap langkah didasari ilmu yang sahih — baik ilmu syar’i maupun ilmu kauni (ilmu alam dan tubuh manusia).

Karena kesembuhan sejati hanya hadir jika ilmu dan amal berjalan beriringan, bi’idznilah.

FASCIA Hack di QULBI Method: Ilmu yang Menghidupkan Sentuhan

QULBI Method meletakkan prinsip “ilmu sebelum amal” secara nyata yang salah satunya melalui FASCIA Hack Model — pendekatan baru dalam dunia terapi fisik yang memadukan anatomi fascia, tensegrity, dan gerak seimbang.

1. Balancing – Ilmu Keseimbangan Tubuh

Teknik Balancing dengan Terapi PAZ dalam FASCIA Hack bukan gerakan asal. Ia lahir dari pemahaman ilmiah sang founder yaitu Haris Moedjahid rahimahullah bahwa tubuh manusia adalah sistem tensegrity — struktur yang menyeimbangkan tarikan dan tekanan di seluruh jaringan.
Ketika satu sisi tubuh tertarik, sisi lain menyesuaikan. Maka terapi dilakukan bukan dengan memaksa lurus, tapi mengembalikan harmoni fascia.

2. Touching – Sentuhan yang Berbasis Ilmu

Touching bukan sekadar “memijat”. Ia adalah seni mendengar pesan tubuh lewat sentuhan.
Melalui teknik seperti pijat myofascial release, TENS, dry needling, atau dry cupping, adhesi fascia dilepaskan secara lembut agar komunikasi sel-sel tubuh kembali lancar.
Semua dilakukan dengan dasar ilmu, bukan intuisi kosong.

3. Moving – Gerakan sebagai Integrasi

Setelah tubuh seimbang dan fascia longgar, terapi dilanjutkan dengan gerakan integratif yang menstimulasi ulang sistem proprioseptif.
Tujuannya bukan hanya menguatkan otot, tapi melatih ulang pola gerak alami tubuh agar tidak kembali ke kondisi lama.
Gerakan ini mengikuti arah fascia, bukan melawannya — sesuai prinsip biologis tensegrity.

Blog QULBI: Ditulis dari Ilmu, Pengalaman, dan Ribuan Kasus Nyata

Di Griya Sehat QULBI, sebagai upaya mengikat ilmu maka semua proses belajar, memahami dan praktik ini kami dokumentasikan dalam artikel Blog QULBI di www.qulbi.com/blog  dan setiap artikel bukanlah rangkuman teori kosong.

Alhamdulillah semua tulisan lahir dari:

✔️ Pengalaman pribadi

Founder QULBI adalah survivor low back pain (LBP) selama 20 tahun, sehingga memahami rasa sakit bukan dari buku, tapi dari kehidupan nyata.

Baca Juga :  Yuk Gerak, Nyeri Lenyap! FASCIA Hack: Terapi Aman Bebas Nyeri dengan Active Physical Therapy

✔️ Perjalanan kesehatan keluarga

Keluhan sanak famili termasuk istri yang pernah mengalami asma kronis selama lebih dari 10 tahun.

✔️ Ribuan kasus klien

Setiap keluhan — mulai dari saraf kejepit, nyeri sendi, asma, migrain, gangguan pencernaan, degeneratif, hormonal, structural imbalance, hingga kasus akut termasuk cidera olahraga, dislokasi dan patah tulang — dianalisis dengan QULBI Method hingga terbentuk pola-pola terapi yang konsisten.

✔️ Belajar intensif keilmuan Terapis Fisik berlisensi, Functional Medicine & studi fascia

Melalui:

  • literatur ilmiah,
  • buku-buku & video fascia modern,
  • kursus & pelatihan berlisensi
  • kajian keislaman
  • komunitas dokter, terapis dan praktisi di Functional Integrative & Innovative Medicine (FIIM),
  • komunitas dokter, terapis dan praktisi di Indonesian Society of Lifestyle & Interdisciplinary Medicine (ISLM)
  • dan pengalaman praktik harian.

Karena itu, blog QULBI tidak pernah ditulis asal. Selalu dipersiapkan bahkan direvisi jika diperlukan.
Ia adalah catatan hidup, bukan catatan kuliah, Alhamdulillah

Kami Tidak Mengklaim Sudah Hebat. Justru Kami Masih Terus Belajar.

Ini penting kak…

Menjadi terapis di QULBI bukan berarti sudah “paling-benar” atau “paling-tahu”. Jauh dari itu.

Sampai hari ini, kami masih terus:

  • belajar,
  • meneliti,
  • mencoba memfilter ilmu mana yang benar-benar bermanfaat,
  • mempraktikkannya secara hati-hati,
  • lalu mengevaluasi lewat kasus nyata.
  • menerima kritik dan masukan dari para ahli.

Karena kesehatan itu bidang yang terus berkembang. Ilmu baru muncul setiap hari. Dan tubuh manusia tidak pernah berhenti mengajarkan sesuatu yang baru.

Justru semakin belajar, semakin terasa bahwa perjalanan ini panjang sekali.

Dari Itqan ke Ihsan: Ruh Seorang Terapis QULBI

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan sesuatu, maka ia melakukannya dengan itqan (tepat, penuh kesungguhan, dan profesional).”
(HR. Al-Baihaqi)

Kalau itqan adalah profesionalisme lahir, maka ihsan adalah kesungguhan batin.
Seorang terapis QULBI bekerja dengan dua tangan:
satu tangan berisi ilmu, satu tangan lagi berisi doa.
Sebab kesembuhan sejati bukan dari teknik, tapi dari izin Allah Ta’ala.
Ilmu hanya menjadi jalan, amal menjadi jembatan, dan niat yang bersih menjadi bahan bakar menuju keberkahan. Pahami Menjadi Terapis Adalah Amanah.

Karena di Griya Sehat QULBI, kami percaya:

Ilmu itu cahaya.
Cahaya itulah yang menuntun tangan penyembuh.
Tanpa ilmu, sentuhan kehilangan arah.
Tapi dengan ilmu, setiap gerakan bisa jadi wasilah kesembuhan — bi idznillah.

Referensi

  • Al-Qur’an, QS. Muhammad [47]:19
  • HR. Abu Daud, no. 3875
  • HR. Ibnu Majah, no. 3476
  • Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, jilid 2, hal. 418
  • Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, no. 5312
  • Rumaysho.com, Ilmu Dunia: Engkau Lebih Paham
  • Donald Ingber (2008), Tensegrity and Mechanotransduction in the Cell
  • Thomas Myers (2014), Anatomy Trains: Myofascial Meridians for Manual and Movement Therapists
  • Carey Ann (2023), The Hidden Language of the Fascia: How Your Feet Dictate Energy, Detox, and Healing
  • Syaifullah, E. (2025). QULBI Method: Solusi Nyeri Holistik. Griya Sehat QULBI. www.qulbi.com
0Shares

Griya Sehat QULBI

Spesialis Terapi Nyeri Bekasi

Tinggalkan Balasan