Kita mengetahui bahwa konsep Tensegrity oleh arsitek Buckminster Fuller sebagai dasar keseimbangan struktural dalam tubuh manusia. Sekarang, mari kita masuk ke level yang lebih dalam: Biotensegrity—konsep yang dikembangkan oleh Dr. Stephen Levin untuk menjelaskan bagaimana tensegrity berlaku pada sistem biologis, bukan cuma bangunan atau arsitektur.
Nah, apa hubungannya Biotensegrity dengan FASCIA Hack? Jawabannya simpel: FASCIA Hack yang dikembangkan Endy Syaifullah di Griya Sehat QULBI adalah metode terapi Nyeri Holistik yang secara langsung menerapkan prinsip Biotensegrity dalam terapi fascia adhesions dan koreksi struktural.
1. Dari Tensegrity ke Biotensegrity
Tensegrity (Buckminster Fuller)
Prinsip arsitektur yang diperkenalkan pada tahun 1960 oleh arsitek dan desainer Buckminster Fuller dan seniman Kenneth Snelson di bidang arsitektur dan desain. Prinsip ini menunjukkan bagaimana struktur bisa tetap stabil dengan kombinasi elemen tarik (tension) dan tekan (compression) yang seimbang.
Contohnya bisa dilihat pada jembatan kabel atau struktur geodesik yang ringan tapi sangat kuat.
Biotensegrity (Stephen Levin)
Konsep Biotensegrity pertama kali dikembangkan pada tahun 1970 oleh Dr. Stephen M. Levin, seorang ahli bedah ortopedi. Levin mengadaptasi konsep Tensegrity untuk memahami bagaimana tubuh manusia mempertahankan keseimbangan biomekaniknya.
Tubuh bukan sekadar kumpulan tulang yang ditumpuk seperti bangunan, tapi sebuah jaringan kontinu yang fleksibel di mana fascia berperan sebagai sistem tensional utama.
Fascia adalah jaringan elastis yang ibarat jaring laba-laba menyelimuti setiap bagian tubuh. Bahkan, sebuah laporan ilmiah pada 2018 di Scientific Reports menyebutkan fascia sebagai interstitium—organ baru yang tersembunyi di bawah kulit, membungkus otot, tulang, dan organ lain. Fascia nggak hanya bertugas sebagai “pembungkus,” tapi juga sebagai penghubung dan penyampai gaya.
Ketika ada ketidakseimbangan dalam struktur rangka, fascia menyesuaikan diri dengan menarik, mengencang, mengendor atau bahkan “mengunci” area tertentu untuk menjaga stabilitas.
2. Biotensegrity: Bagaimana Tubuh Mempertahankan Stabilitas
Dalam konsep Biotensegrity, tubuh manusia tidak bekerja dengan prinsip mekanik klasik (seperti tuas dan engsel), melainkan sebagai struktur tensegral yang dinamis.
Tulang berperan sebagai elemen tekan (compression).
Fascia berperan sebagai elemen tarik (tension).
Ketegangan yang merata dalam jaringan fascia menjaga stabilitas tanpa memerlukan sendi atau tulang sebagai “penopang utama”, tidak seperti tumpukan batu bata dan semen sebagai penopang dalam struktur bangunan.
Dengan pendekatan ini, Levin membantu kita memahami bahwa tubuh kita bekerja lebih seperti sistem jaring yang saling terhubung, di mana setiap bagian memengaruhi bagian lain melalui keseimbangan antara tegangan dan tekanan. Ini mengubah cara kita melihat tubuh, terutama dalam kaitannya dengan gerakan, postur, dan kesehatan jaringan seperti fascia.
Bayangin tubuh kita seperti tenda modern. Tenda ini punya dua elemen utama: tiang (elemen tekan) yang menopang, dan tali (elemen tarik) yang menjaga kestabilan. Dalam tubuh manusia, tiang adalah struktur rangka (tulang), dan tali adalah fascia, yaitu jaringan elastis yang menyelimuti seluruh tubuh, dari otot, tulang, hingga organ-organ.
Implikasi Biotensegrity dalam Terapi Fascia:
- Ketidakseimbangan di satu bagian tubuh akan memengaruhi seluruh sistem, bukan hanya area lokal.
- Penyebab nyeri atau gangguan struktural sering kali berasal dari kompensasi fascia di tempat lain.
- Pemulihan optimal harus memperhitungkan seluruh jaringan fascia dan distribusi tensegrity dalam tubuh.
3. Bagaimana FASCIA Hack Menerapkan Prinsip Biotensegrity?
FASCIA Hack tidak hanya fokus pada titik nyeri atau disfungsi lokal, tapi bekerja dalam tiga pilar utama yang langsung sejalan dengan konsep Biotensegrity:
Balancing → Mengembalikan Pola Tensegral yang Seimbang
Teknik Puntir Balik (dikenal Terapi PAZ Biomekanik oleh Haris Moedjahid Rahimahullah) memastikan struktur tulang rangka tubuh (elemen tekan) kembali ke posisi netral, mengoreksi ketidakseimbangan tensegral di seluruh tubuh.
Contohnya, pada pasien dengan Left Pelvic Rotation (LPR), Fascia Hack tidak hanya memperbaiki panggul yang berputar, tetapi juga memastikan distribusi tensegral di seluruh tubuh tetap seimbang.
Touching → Menghilangkan Hambatan Biotensegral dalam Fascia
Teknik seperti pijat myofascial release, dry needling, TENS dan cupping digunakan untuk mengurangi adhesi (perlekatan) fascia (elemen tarik) yang mengganggu pola tarik-menarik tensegral tubuh.
Moving → Menjaga Stabilitas Biotensegrity dalam Gerakan Sehari-hari
Gerakan dalam Moving dirancang untuk tidak melanggar prinsip tensegrity, tetapi memastikan tubuh mempertahankan distribusi ketegangan dan tekanan yang optimal dalam aktivitas sehari-hari, termasuk dalam berolahraga.
Latihan korektif dilakukan dengan memperhitungkan bagaimana setiap bagian tubuh terhubung dalam sistem tensegral, bukan hanya gerakan isolasi otot.
4. Studi Kasus: Biotensegrity dalam FASCIA Hack pada Pasien dengan Left Pelvic Rotation (LPR)
Kasus: Pasien dengan LPR (Left Pelvic Rotation)
Masalah:
- Panggul berputar ke kiri → menyebabkan ilium kiri outflare, ilium kanan inflare, dan kompensasi di tulang belakang serta ekstremitas bawah.
- Distribusi tensegral tubuh terganggu → menyebabkan ketegangan berlebih di quadratus lumborum, iliopsoas, dan otot sekitar panggul.
- Akibatnya, pasien mengalami nyeri punggung bawah kronis dan disfungsi gerak di sisi kiri tubuhnya.
Pendekatan FASCIA Hack berdasarkan Biotensegrity:
Balancing:
Koreksi puntir balik (PAZ Biomekanik) untuk mengembalikan posisi panggul (pelvic) ke pusat tensegral yang seimbang.
Touching:
Myofascial release dan cupping pada quadratus lumborum, iliopsoas, dan jaringan fascia sekitar panggul untuk mengurangi adhesi (perlekatan) dan mengembalikan elastisitas fascia.
Moving:
Latihan korektif dengan gerakan aktivitas harian terkontrol yang menjaga keseimbangan tensegral dari kepala hingga kaki, termasuk olahraga rutin harian.
Hasil Terapi :
- Stabilitas panggul meningkat → pasien merasa lebih seimbang saat berdiri dan berjalan.
- Nyeri punggung bawah berkurang signifikan.
- Gerakan tubuh lebih bebas tanpa ada sensasi “berat” di sisi kiri tubuh.
Kesimpulan: FASCIA Hack sebagai Terapi Berbasis Biotensegrity
Dari semua pembahasan ini, bisa kita lihat bahwa FASCIA Hack bukan sekadar terapi struktural biasa, tetapi benar-benar menerapkan konsep Biotensegrity dalam perbaikannya.
Balancing memastikan tulang rangka tubuh (elemen tekan) kembali ke pola tensegral yang optimal.
Touching menjaga fascia (elemen tarik) dari adhesi (perlekatan) yang mengganggu distribusi tensegral.
Moving memastikan pola gerak tensegral tetap terjaga dalam gerakan sehari-hari termasuk berolahraga
Jadi, kalau ada yang bertanya, “Kenapa FASCIA Hack lebih efektif dibanding terapi konvensional?”
Jawabannya: Karena FASCIA Hack bukan hanya memperbaiki satu area nyeri, tapi juga memastikan keseimbangan tensegral tubuh secara menyeluruh atau sistemik, sesuai dengan prinsip Biotensegrity!
Yuk atasi Nyeri-mu dengan FASCIA Hack, hanya ada di Griya Sehat QULBI ! Sembuh Biidznillah
Referensi :
- Levin SM. (1997). Medical Hypotheses, 47(5), 445-466.
- Schleip R. et al. (2012). Fascia: The Tensional Network of the Human Body.
- Stecco L. (2004). Fascial Manipulation for Musculoskeletal Pain.
- Fuller RB. (1975). Synergetics: Explorations in the Geometry of Thinking.
- Myers TW. (2020). Anatomy Trains: Myofascial Meridians.
- Syaifullah, E. (2025). QULBI Method: Fascia Hack sebagai Solusi Nyeri Holistik.
- Griya Sehat QULBI.
www.qulbi.com – Website resmi Griya Sehat QULBI.