You are currently viewing Fascia & Gerakan: Jangan Biarkan Tubuh “Nyeri” karena Mager!

Fascia & Gerakan: Jangan Biarkan Tubuh “Nyeri” karena Mager!

0Shares

“Kalau mager atau malas gerak, tubuh tetap baik-baik saja.” Yakin? Coba lihat fascia dulu.

Apa Itu Fascia dan Kenapa Penting?

Fascia adalah jaringan ikat yang menyelimuti otot, tulang, saraf, dan organ dalam tubuh kita. Bayangkan fascia seperti jaring laba-laba elastis yang membungkus dan menghubungkan seluruh bagian tubuh.

Saat fascia dalam kondisi sehat, ia tetap fleksibel dan memungkinkan tubuh bergerak bebas. Tapi fascia bisa menegang, menempel (adhesi), atau bahkan mengeras. Inilah yang menyebabkan tubuh terasa kaku, nyeri, atau bahkan memicu penyakit kronis.

Fascia bukan sekadar jaringan pembungkus otot, tapi sistem aktif yang menghubungkan seluruh tubuh. Fascia yang sehat bisa mengalirkan listrik, menyimpan pola gerakan, dan menjaga keseimbangan tubuh. Tapi ada syaratnya: harus sering digerakkan!

Kalau tidak? Fascia kering, kaku, lengket, dan malah bikin nyeri. Ini bukan cuma teori, ada bukti ilmiahnya!

1. Piezoelectricity: Fascia Butuh Gerakan untuk Menghasilkan Energi Listrik

Referensi: James Oschman – Energy Medicine: The Scientific Basis

Fascia itu piezoelectric, artinya bisa menghasilkan listrik ketika mendapatkan tekanan atau gerakan. Ini penting karena aliran listrik di tubuh berperan dalam regenerasi sel dan penyembuhan jaringan.

✅ Kalau sering bergerak: Listrik dalam tubuh tetap mengalir lancar, jaringan cepat pulih.
❌ Kalau mager: Fascia kehilangan rangsangan listrik, penyembuhan lambat, tubuh terasa “mati rasa.”

Solusi? Terapkan gerakan terstruktur sesuai Moving di Fascia Hack supaya tubuh gak “korslet” penyebab nyeri karena kurang gerak!

2. Thixotropy: Fascia Bisa Mengeras atau Melunak Tergantung Gerakan

Referensi: Schleip et al. – Fascia: The Tensional Network of the Human Body

Fascia punya sifat thixotropy, yang berarti ia bisa berubah antara kaku dan cair tergantung aktivitas fisik.

✅ Kalau sering digerakkan: Fascia tetap lunak, fleksibel, dan elastis.
❌ Kalau jarang bergerak: Fascia mengeras, jadi lengket, bikin nyeri, dan susah digerakkan.

Solusi? Rutin lakukan gerakan spesifik yang mendukung kelenturan fascia, bukan sekadar olahraga asal gerak.

3. Viscoelasticity: Fascia Bisa Menyesuaikan Ketegangan Tubuh

Referensi: Myers – Anatomy Trains: Myofascial Meridians for Manual and Movement Therapists

Fascia memiliki sifat viscoelasticity, artinya dia bisa meregang dan kembali ke bentuk semula. Tapi ini hanya bisa terjadi kalau sering digerakkan!

✅ Kalau bergerak dengan benar: Fascia tetap elastis, tubuh lebih lentur, dan risiko cedera rendah.
❌ Kalau pasif terlalu lama: Fascia kehilangan elastisitas, otot terasa kaku, bikin nyeri dan lebih mudah cedera.

Solusi? Jangan tunggu sampai cedera! Latih fleksibilitas fascia dengan gerakan yang selaras dengan balancing tubuh.

4. Mechanotransduction: Fascia Bisa Memengaruhi Regenerasi Sel

Referensi: Langevin et al. – Connective Tissue: A Body-Wide Signaling Network?

Fascia berperan dalam mechanotransduction, yaitu proses di mana tekanan mekanis dari gerakan bisa mengubah fungsi sel dan jaringan. Ini berarti gerakan yang tepat bisa membantu tubuh memperbaiki dirinya sendiri!

✅ Kalau sering bergerak: Regenerasi sel lebih cepat, luka lebih cepat sembuh.
❌ Kalau diam terlalu lama: Sel kurang terstimulasi, penyembuhan lebih lambat.

Solusi? Terapkan prinsip Balancing + Moving di Fascia Hack untuk mendukung regenerasi alami tubuh.

5. Hydration & Fluid Dynamics: Fascia Butuh Cairan Agar Tidak Kering & Lengket

Referensi: Guimberteau & Armstrong – Architecture of Human Living Fascia

Fascia itu seperti spons yang butuh hidrasi untuk tetap elastis. Tapi cairan ini tidak bisa mengalir sendiri, harus ada gerakan!

✅ Kalau sering bergerak: Fascia tetap terhidrasi, otot terasa ringan dan bebas nyeri.
❌ Kalau mager: Cairan fascia mengering, menyebabkan adhesi (lengket), dan bikin tubuh nyeri juga terasa kaku.

Solusi? Selain cukup minum, harus ada gerakan berkualitas agar cairan fascia tetap menyebar dengan baik.

6. Tensegrity: Fascia Menjaga Keseimbangan Struktur Tubuh

Referensi: Levin – Biotensegrity: The Structural Basis of Life

Konsep tensegrity menunjukkan bahwa fascia bekerja seperti jaring elastis yang menjaga keseimbangan tubuh.

✅ Kalau fascia sehat: Postur tubuh seimbang, risiko nyeri & cedera rendah.
❌ Kalau fascia tidak bergerak: Struktur tubuh terganggu, nyeri muncul, dan tubuh jadi lebih rentan terhadap cedera.

Solusi? Perbaiki tensegrity tubuh dengan balancing sebelum lanjut ke moving.

7. Proprioception: Fascia sebagai Sensor Keseimbangan Tubuh

Referensi: Stecco et al. – Functional Atlas of the Human Fascial System

Fascia itu pusat proprioception, artinya dia membantu tubuh memahami posisi dan keseimbangannya.

✅ Kalau fascia aktif: Koordinasi tubuh lebih baik, keseimbangan meningkat.
❌ Kalau fascia pasif: Sensor gerak melemah, tubuh mudah kehilangan keseimbangan & lebih rentan cedera.

Solusi? Latih proprioception dengan gerakan yang benar, bukan sekadar olahraga biasa.

8. Neuroplasticity: Fascia Bisa Merekam Pola Gerakan

Referensi: Oschman – Energy Medicine & Neuroplasticity Research

Fascia itu mirip otak, bisa “mengingat” pola gerakan! Ini berarti, kalau sering melakukan gerakan yang salah, tubuh akan menyimpannya sebagai kebiasaan.

✅ Kalau gerakan benar: Tubuh merekam pola yang sehat, risiko nyeri berkurang.
❌ Kalau postur buruk dan malas gerak: Pola gerakan salah terekam, akhirnya bikin tubuh makin kaku dan sakit.

Solusi? Terapkan gerakan yang benar dan terstruktur, bukan asal olahraga!

Kesimpulan: Fascia Itu Hidup, Jangan Sampai “Mati” karena Mager!

Fascia itu bukan jaringan mati, tapi sistem hidup yang memerlukan gerakan agar tetap sehat bebas nyeri.
Semua sifat fascia bergantung pada aktivitas fisik – dari aliran listrik, hidrasi, fleksibilitas, hingga penyembuhan jaringan.
Gerakan harus benar! Jangan asal olahraga, tapi pastikan sesuai dengan konsep Moving di Fascia Hack agar tidak memperburuk kondisi tubuh.

Jadi, mulai bergerak sekarang juga! Jangan tunggu sampai nyeri atau obesitas dulu baru sadar bahwa mager itu racun buat fascia.

Referensi :

  • Oschman, J. (2015). Energy Medicine: The Scientific Basis.
  • Schleip, R., et al. (2012). Fascia: The Tensional Network of the Human Body.
  • Myers, T. (2020). Anatomy Trains: Myofascial Meridians for Manual and Movement Therapists.
  • Langevin, H. et al. (2006). Connective Tissue: A Body-Wide Signaling Network
  • Guimberteau, J. & Armstrong, C. (2015). Architecture of Human Living Fascia.
  • Levin, S. (2018). Biotensegrity: The Structural Basis of Life.
  • Stecco, C. (2015). Functional Atlas of the Human Fascial System.
  • Syaifullah, E. (2025). QULBI Method: Fascia Hack sebagai Solusi Nyeri Holistik.
  • Griya Sehat QULBI.
    www.qulbi.com – Website resmi Griya Sehat QULBI.
0Shares

Griya Sehat QULBI

Spesialis Terapi Nyeri Bekasi

Tinggalkan Balasan