You are currently viewing Conventional or Functional Medicine: Saat Nyeri, Kapan Harus Memilih yang Tepat?

Conventional or Functional Medicine: Saat Nyeri, Kapan Harus Memilih yang Tepat?

0Shares

Pendahuluan
Saat mengalami nyeri, kebanyakan orang langsung mencari obat atau terapi. Ada yang percaya pada pengobatan medis (Conventional Medicine), ada juga yang lebih memilih pendekatan alami (Functional Medicine).

Padahal, keduanya bukan untuk dipertentangkan, tapi saling melengkapi. Ada kondisi yang memang butuh tindakan medis cepat, ada juga yang harus diselesaikan dengan memperbaiki akar masalah. Jadi, kapan harus memilih yang mana?

Artikel ini akan membahas perbedaan, sejarah, dan pendekatan keduanya, serta contoh kasus supaya masyarakat lebih bijak dalam mengambil keputusan kesehatan.

1. Apa Itu Conventional Medicine?
Conventional Medicine (kedokteran konvensional) adalah sistem pengobatan berbasis diagnosis penyakit dan intervensi medis (evidence-based medicine).
Metode ini berfokus pada:
✅ Mengatasi gejala dengan obat-obatan
✅ Menggunakan tindakan medis seperti operasi atau terapi fisik konvensional
✅ Mendiagnosis penyakit berdasarkan pemeriksaan laboratorium dan imaging (CT Scan, MRI, dll.)

Sejarah Conventional Medicine

Kedokteran konvensional berkembang pesat sejak era Hipokrates (460–370 SM), tetapi semakin maju sejak abad ke-19 dengan ditemukannya:

  • Teori Kuman oleh Louis Pasteur (1860-an)
  • Penemuan antibiotik oleh Alexander Fleming (1928)
  • Perkembangan teknologi pencitraan seperti MRI dan CT Scan

Conventional Medicine sangat penting dalam kondisi gawat darurat, seperti:
⚡️ Serangan jantung → Butuh tindakan segera seperti pemasangan stent.
⚡️ Cedera berat → Operasi atau tindakan cepat diperlukan.
⚡️ Infeksi parah → Antibiotik diperlukan untuk mencegah sepsis.

Namun, kelemahan dari sistem ini adalah:
❌ Lebih fokus pada gejala, bukan akar masalah
❌ Obat sering hanya mengontrol, bukan menyembuhkan

2. Apa Itu Functional Medicine?
Functional Medicine adalah pendekatan yang mencari akar penyebab penyakit dan memperbaikinya dengan perubahan gaya hidup, nutrisi, dan terapi alami.

Metode ini berfokus pada:
✅ Menemukan root cause (akar masalah) dari penyakit
✅ Menganalisis faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup
✅ Mendorong pemulihan alami dengan nutrisi, terapi fisik, dan manajemen stres

Sejarah Functional Medicine
Pendekatan ini mulai berkembang sejak 1990-an, dipopulerkan oleh Dr. Jeffrey Bland, yang melihat hubungan erat antara nutrisi, metabolisme, dan penyakit kronis.

Functional Medicine sangat efektif untuk penyakit kronis, seperti:

  • Diabetes tipe 2
  • Hipertensi
  • Nyeri kronis dan gangguan postur
  • Penyakit kronis lainnya

Namun, Functional Medicine juga memiliki kelemahan:
❌ Tidak cocok untuk kondisi gawat darurat
❌ Butuh waktu untuk hasil yang optimal

3. Perbedaan Conventional Medicine vs Functional Medicine

🔹 Fokus Pendekatan
Conventional Medicine berfokus pada menghilangkan gejala dengan obat atau tindakan medis, sedangkan Functional Medicine berfokus pada mencari akar masalah penyakit dan memperbaikinya secara holistik.
🔹 Metode Diagnostik
Dalam Conventional Medicine, diagnosa penyakit didasarkan pada pemeriksaan laboratorium, pencitraan medis (seperti CT scan atau MRI), dan standar medis baku. Sementara itu, Functional Medicine menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk analisis pola hidup, riwayat kesehatan mendalam, serta pemeriksaan nutrisi dan keseimbangan hormon.
🔹 Pendekatan Terapi
Conventional Medicine mengandalkan obat-obatan, operasi, dan terapi berbasis gejala. Functional Medicine lebih banyak menggunakan intervensi berbasis gaya hidup, perbaikan pola makan, suplementasi alami, terapi manual (seperti FASCIA Hack), serta pengelolaan stres.
🔹 Pandangan Terhadap Penyakit
Dalam Conventional Medicine, penyakit sering kali dilihat sebagai gangguan spesifik yang bisa diatasi dengan obat atau prosedur medis. Sedangkan dalam Functional Medicine, penyakit dipahami sebagai manifestasi dari ketidakseimbangan sistem tubuh, yang bisa diperbaiki dengan pendekatan holistik.
🔹 Contoh Penanganan
Pada kasus diabetes tipe 2, Conventional Medicine biasanya menggunakan obat penurun gula darah untuk mengontrol kadar gula. Functional Medicine justru akan menganalisis penyebab utama seperti pola makan tinggi karbohidrat olahan, stres kronis, dan kurang aktivitas fisik, lalu memberikan solusi berbasis diet, puasa intermiten, serta perubahan gaya hidup lainnya.
🔹 Tujuan Akhir
Conventional Medicine bertujuan menghilangkan gejala dengan cepat, sedangkan Functional Medicine berusaha membantu pasien mencapai kesehatan optimal dalam jangka panjang dengan mengubah kebiasaan hidup.

4. Contoh Kasus: Low Back Pain akibat HNP Posterior

Seorang pasien mengalami nyeri punggung bawah kronis akibat hernia nukleus pulposus (HNP) posterior, di mana bantalan tulang belakang menekan saraf.

Pendekatan Conventional Medicine:

  • MRI untuk memastikan diagnosis
  • Pemberian painkiller atau injeksi steroid
  • Jika parah, dilakukan operasi discectomy atau laminectomy

Pendekatan Functional Medicine:

  • Pendekatan nutrisi dan anti-inflamasi untuk mendukung regenerasi jaringan
  • Edukasi dan perbaikan Healthy Lifestyle 
  • Di Griya Sehat QULBI diberikan FASCIA Hack Therapy untuk memperbaiki structural imbalances dan melepaskan adhesi fascia serta Edukasi postur dan gerakan yang sesuai

Hasilnya? Pasien sering kali mengalami perbaikan signifikan tanpa operasi, karena penyebab utama nyeri (fiksasi fascia dan ketidakseimbangan struktur) diperbaiki dari akarnya.

5. Organisasi & Group Diskusi Functional Medicine di Indonesia

Functional Medicine di Indonesia berkembang pesat dengan beberapa organisasi & group diskusi :
🔹 PDKFI-ICFAM (Praktisi Disiplin Komplementer Fungsional Indonesia)
Organisasi para praktisi Functional Medicine ini dipimpin oleh Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH,Ph.D. dan menjadi wadah bagi para praktisi yang menerapkan pengobatan berbasis root cause healing dan terapi komplementer.
🔹 Functional Integrative and Innovative Medicine Indonesia (FIIM)
Group Diskusi para Praktisi Functional & Integrative Medicine yang dibimbing oleh Dr. Widya Murni, MARS, Group FIIM berfokus pada edukasi Functional Medicine berbasis nutrisi dan gaya hidup sehat.

Kedua lembaga ini berperan penting dalam membangun kesadaran bahwa kesehatan sejati datang dari keseimbangan sistem tubuh, bukan sekadar menekan gejala.

6. Kesimpulan: Kapan Harus ke Griya Sehat QULBI?

Sebagai layanan Terapi Tradisional-Integrative Medicine yang memiliki izin praktek resmi, Griya Sehat QULBI berkiblat kepada Pengobatan Timur yang sejalan dengan konsep Functional Medicine yaitu “kesehatan sejati datang dari keseimbangan sistem tubuh, bukan sekadar menekan gejala” dan kami hadir di saat yang tepat untuk menangani masalah kesehatan Klien sesuai kebutuhan:

  • Jika dalam kondisi akut seperti patah tulang atau nyeri hebat, kami akan menangani dengan teknik terapi yang sesuai, tetapi jika kondisi klien sudah darurat yang berkaitan dengan nyawa, maka kami langsung arahkan ke IGD rumah sakit untuk penanganan Conventional Medicine.
  • Jika dalam kondisi kronis (seperti metabolic syndrome atau nyeri muskuloskeletal berkepanjangan), kami menggunakan pendekatan Functional Medicine berbasis FASCIA Hack Therapy untuk menangani Structural Imbalances sebagai root cause dan perbaikan gaya hidup melalui penerapan QULBI Habits, Kebiasaan Sehat Holistik.
  • Nyeri akut seperti nyeri pinggang berat, sakit kepala hebat, nyeri perut, atau lambung sering kali berkurang signifikan setelah FASCIA Hack, karena fascia adhesion telah terurai sehingga seluruh fungsi tubuh berjalan normal. Ingat ya, Fascia adalah Sistem bahkan Metasistem yang menghubungkan dan mempengaruhi semua sistem lain dalam tubuh, termasuk otot, saraf, organ, bahkan kesadaran kita

Jadi, kedua pendekatan ini bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk ditempatkan sesuai porsinya!

Masyarakat harus memahami bahwa Conventional Medicine dan Functional Medicine bukan musuh, tapi saling melengkapi. Jika sedang darurat, gunakan Conventional Medicine untuk stabilisasi.
Jika ingin solusi jangka panjang dan pencegahan, gunakan Functional Medicine
.

Dengan pemahaman ini, kita bisa lebih cerdas dalam menjaga kesehatan dan memilih perawatan yang sesuai!

Mau tahu lebih lanjut tentang FASCIA Hack dan Functional Medicine Kunjungi www.qulbi.com (https://www.qulbi.com/)

Referensi :

  • Bland, J. (2015). The Disease Delusion: Conquering the Causes of Chronic Illness for a Healthier, Longer, and Happier Life. Harper Wave.
  • Oschman, J. L. (2012). Energy Medicine: The Scientific Basis. Churchill Livingstone.
  • Institute for Functional Medicine (IFM).
  • Syaifullah, E. (2025). QULBI Method: FASCIA Hack sebagai Solusi Nyeri Holistik.
  • Griya Sehat QULBI.
    www.qulbi.com – Website resmi Griya Sehat QULBI.
0Shares

Griya Sehat QULBI

Spesialis Terapi Nyeri Bekasi

Tinggalkan Balasan