You are currently viewing Scientific Evidence Behind QULBI Method: Mengapa Tensional Integrity Penting bagi Kesehatan?

Scientific Evidence Behind QULBI Method: Mengapa Tensional Integrity Penting bagi Kesehatan?

0Shares

QULBI Method Terapi Nyeri Bekasi – Pernah nggak merasa tubuh itu sebenarnya nggak cedera apa-apa, tapi kok rasanya nggak nyaman dipakai? Duduk sebentar pegal, jalan sedikit berat, bangun tidur badan terasa “nggak nyatu”. Anehnya, hasil rontgen bisa normal, MRI bersih, lab aman. Lalu masalahnya di mana?

Di sinilah banyak orang mulai bingung. Padahal sering kali, tubuh bukan rusak, tapi setelan tegangannya melenceng. Ada bagian yang terlalu ditahan, ada yang terlalu dilepas. Seperti tali yang bekerja sehari-hari, kalau tegangannya berlebihan ia mudah rusak, kalau terlalu kendur fungsinya hilang. Tubuh pun demikian—ia butuh keseimbangan agar bisa bekerja dengan tenang dan efisien.

Ilmu kesehatan modern kini mulai memandang tubuh bukan sekadar kumpulan tulang, otot, dan organ, tetapi sebagai satu sistem tegangan yang hidup dan saling terhubung. Konsep seperti biotensegrity, ilmu fascia, dan mekanotransduksi menjelaskan bahwa cara tubuh menerima dan merespons gaya mekanik sangat memengaruhi fungsi sel, jaringan, hingga organ. Dari sinilah QULBI Method dirumuskan—dengan satu fokus utama: menata kembali keseimbangan tegangan tubuh.

Tubuh sebagai Sistem Tegangan, Bukan Sekadar Struktur

Dalam pendekatan konvensional, tubuh sering dilihat sebagai struktur statis:

  • tulang sebagai rangka
  • sendi sebagai engsel
  • otot sebagai penggerak

Padahal secara biomekanik, struktur tubuh selalu berada di bawah pengaruh gaya. Tidak ada tulang yang berdiri sendiri. Tidak ada sendi yang bekerja tanpa tarikan jaringan di sekitarnya.

Konsep Biotensegrity (Tensional Integrity) oleh Dr Stephen Levin menjelaskan bahwa:

  • stabilitas tubuh ditentukan oleh keseimbangan tegangan jaringan lunak
  • tulang berperan sebagai elemen tekan yang “mengapung” di dalam jaringan tegang
  • perubahan tegangan mendahului perubahan struktur

Artinya, ketika terjadi postur miring, sendi bergeser, atau pola gerak berubah, sering kali itu bukan sebab utama, melainkan akibat dari distribusi tegangan yang tidak seimbang.

Fascia: Jaringan Tegangan Global Tubuh

Fascia dulu dianggap hanya pembungkus. Sekarang, pandangan itu sudah jauh berubah. Penelitian modern menunjukkan fascia adalah:

  • jaringan kontinu dari kepala sampai kaki
  • kaya reseptor mekanik
  • mampu mentransmisikan gaya secara lokal dan global

Fascia menghubungkan:

  • otot dengan otot
  • otot dengan tulang
  • bahkan struktur muskuloskeletal dengan organ

Karena itu, ketegangan di satu area bisa berdampak ke area lain yang jauh. Masalah di kaki bisa memengaruhi panggul. Panggul memengaruhi tulang belakang. Dan perubahan di tulang belakang bisa berdampak ke sistem saraf dan viseral.

Di sinilah muncul istilah tensional imbalance: kondisi ketika distribusi tegangan fascia tidak lagi seimbang—ada yang terlalu kencang, ada yang terlalu kendor.

Mekanotransduksi: Saat Tegangan Menjadi Bahasa Sel

Bagian paling penting dari landasan ilmiah QULBI adalah mekanotransduksi.
Ini adalah proses ketika sel:

  • menerima rangsangan mekanik (tegangan, tekanan, tarikan)
  • lalu mengubahnya menjadi respon biologis

Respon ini bisa memengaruhi:

  • ekspresi gen
  • regulasi inflamasi
  • diferensiasi sel
  • adaptasi jaringan
  • proses fibrosis

Dengan kata lain, tegangan jaringan bukan sekadar urusan pegal atau kaku, tapi merupakan sinyal biologis aktif. Lingkungan mekanik yang buruk bisa mendorong sel berperilaku tidak sehat, meskipun nutrisi dan oksigen cukup.

Baca Juga :  Hormonnya Berantakan, Hidup pun Ikut Kacau!” – Panduan Tubuh Seimbang Bebas Nyeri dan Vitalitas JOSS Tanpa Harus Minum Obat

Bukti Ilmiah: Tegangan dan Disfungsi Organ

Penelitian lintas organ menunjukkan pola yang konsisten:

1️⃣ Jantung & Pembuluh Darah

Subbotin & Hussey menunjukkan konsep outside-in remodeling:

  • tekanan dari fascia & adventitia
  • memengaruhi dinding pembuluh
  • memicu hipertrofi, fibrosis, dan disfungsi atrium

👉 Artinya: masalah jantung tidak selalu “dari dalam”, tapi bisa dipicu oleh lingkungan mekanik luarnya.

2️⃣ Ginjal

Penelitian tentang ECM stiffness & mechanosensing menunjukkan:

  • gangguan polycystin (mekanosensor)
  • menyebabkan fibrosis ginjal
  • mempercepat CKD

Ginjal adalah organ yang sangat sensitif terhadap tekanan & aliran.

👉 Tegangan jaringan sekitar ginjal ≠ netral.

3️⃣ Pankreas & Sistem Metabolik

Studi tentang Piezo1 mechanoreceptor:

  • menunjukkan sel beta pankreas merespons tekanan mekanik
  • stiffness ECM → gangguan sekresi insulin
  • berkontribusi pada resistensi insulin

Jadi:

metabolik disorder ≠ cuma soal gula & makanan
tapi juga lingkungan mekanik sel

4️⃣ Paru

Fibroblast paru:

  • sangat responsif terhadap stretch & stiffness
  • mekanotransduksi berperan besar pada fibrosis paru

Lingkungan mekanik yang “kaku” → fibroblas makin agresif.

5️⃣ Hati

Pada liver:

  • peningkatan stiffness jaringan
  • mengaktifkan hepatic stellate cells
  • memicu fibrosis progresif

Menariknya:

stiffness bukan hanya akibat fibrosis,
tapi pemicu aktif fibrosis itu sendiri.

6️⃣ Otak & Sistem Saraf

Penelitian neuromechanics menunjukkan:

  • tegangan jaringan memengaruhi konduksi saraf
  • memengaruhi neurogenesis
  • memengaruhi adaptasi sistem saraf pusat

Makanya:

  • postur
  • ketegangan dura
  • fascia kranial

bisa memengaruhi nyeri kepala, kecemasan, bahkan regulasi emosi.

Semua ini menunjukkan satu benang merah:
👉 ketidakseimbangan tegangan jaringan berkontribusi pada disfungsi biologis dan penyakit kronis.

Dari Structural Integrity ke Tensional Integrity

Dalam kerangka Functional Medicine, Structural Integrity adalah domain penting. Namun QULBI melihat bahwa struktur adalah manifestasi, bukan fondasi terdalam.

QULBI memposisikan:

  • Structural imbalance → ekspresi klinis
  • Tensional imbalance → fondasi mekanik-biologis

Dengan kata lain, struktur yang bermasalah sering kali adalah alarm, bukan sumber apinya.

FASCIA Hack: Aplikasi Klinis Biotensegrity

QULBI Method tidak berhenti di konsep. Semua landasan ini diterjemahkan ke dalam aplikasi klinis yang disebut FASCIA Hack, yang terdiri dari tiga elemen:

1. Balancing

Mengoreksi struktur dengan menghormati sistem tegangan. Bukan memaksa lurus, tapi menyetel ulang arah gaya agar tubuh kembali stabil secara alami.

2. Touching

Intervensi sentuhan terarah untuk melepas adhesi fascia, menormalkan input mekanik ke sel, dan memicu respon mekanotransduksi yang lebih sehat.

3. Moving

Gerakan integratif untuk mengunci distribusi tegangan baru agar tubuh tidak kembali ke pola lama. Gerak di sini bukan sembarang olahraga, tapi edukasi jaringan.

Ketiganya bekerja sebagai satu kesatuan, bukan metode terpisah.

Posisi QULBI Method

QULBI Method tidak mengklaim sebagai satu-satunya solusi, dan tidak menggantikan pendekatan medis konvensional. QULBI hadir sebagai pendekatan komplementer yang menyoroti aspek yang sering terlewat: keseimbangan tegangan tubuh. Sesuai tagline QULBI Method: Balance Your Tension

QULBI tidak berangkat dari “apa yang rusak”, tapi dari pertanyaan:

tegangan tubuhnya masih pas, atau sudah melenceng?

Baca Juga :  Saat Evidence-Based Medicine (EBM) Jadi Konsensus: Antara Ilmu, Bisnis, dan Nurani

Kesimpulan

Ilmu modern semakin menegaskan bahwa tubuh adalah sistem adaptif yang sangat peka terhadap gaya mekanik. Sel mendengar tegangan. Jaringan menyimpan memori mekanik. Organ beradaptasi terhadap lingkungan fisiknya.

Dalam konteks ini, tensional imbalance layak dipahami sebagai salah satu root cause gangguan nyeri dan disfungsi tubuh, sementara masalah struktural dan organik sering kali merupakan konsekuensinya.

QULBI Method berdiri di atas pemahaman ini dengan tujuan sederhana namun mendalam:
menata ulang keseimbangan tegangan tubuh agar struktur, fungsi, dan gerak kembali selaras. Yuk daftar QULBI Method Terapi Nyeri Bekasi

Terapi adalah ikhtiar.
Keseimbangan adalah proses.
Kesembuhan terjadi biidznillah.

Referensi :

  • Ingber, D. E. (2003). Tensegrity I. Cell structure and hierarchical systems biology. Journal of Cell Science, 116(7), 1157–1173.

Fondasi konsep tensegrity & mekanotransduksi pada sel.

  • Ingber, D. E. (2006). Cellular mechanotransduction: Putting all the pieces together again. The FASEB Journal, 20(7), 811–827.

Menjelaskan bagaimana gaya mekanik memengaruhi fungsi biologis sel.

  • Levin, S. M. (2002). The tensegrity-truss as a model for spine mechanics: Biotensegrity. Journal of Mechanics in Medicine and Biology, 2(3–4), 375–388.

Konsep biotensegrity dalam sistem muskuloskeletal.

  • Schleip, R., Findley, T. W., Chaitow, L., & Huijing, P. (2012). Fascia: The tensional network of the human body. Elsevier.

Buku utama tentang fascia sebagai jaringan tegangan global.

  • Stecco, C., Porzionato, A., Macchi, V., et al. (2011). The fascia: The forgotten structure. Italian Journal of Anatomy and Embryology, 116(3), 127–138.

Fascia sebagai organ struktural dan sensorik aktif.

  • Subbotin, V. M., & Hussey, G. S. (2020). Mechanical forces and adventitial remodeling in cardiovascular disease. Frontiers in Physiology, 11, 563.

Konsep outside-in remodeling pada pembuluh darah & jantung.

  • Wang, N., Tytell, J. D., & Ingber, D. E. (2009). Mechanotransduction at a distance: Mechanically coupling the extracellular matrix with the nucleus. Nature Reviews Molecular Cell Biology, 10(1), 75–82.

Mekanisme bagaimana tegangan jaringan memengaruhi ekspresi gen.

  • Humphrey, J. D., Dufresne, E. R., & Schwartz, M. A. (2014). Mechanotransduction and extracellular matrix homeostasis. Nature Reviews Molecular Cell Biology, 15(12), 802–812.

Hubungan stiffness ECM, adaptasi jaringan, dan penyakit.

  • Li, J., Hou, B., Tumova, S., et al. (2014). Piezo1 integration of vascular architecture with physiological force. Nature, 515(7526), 279–282.

Peran Piezo1 sebagai mekanosensor utama dalam respon tekanan.

  • Pathak, M. M., Nourse, J. L., Tran, T., et al. (2014). Stretch-activated ion channel Piezo1 directs lineage choice in human neural stem cells. PNAS, 111(45), 16148–16153.

Mekanotransduksi dan pengaruhnya pada sistem saraf.

  • Wells, R. G. (2013). Tissue mechanics and fibrosis. Biochimica et Biophysica Acta (BBA) – Molecular Basis of Disease, 1832(7), 884–890.

Stiffness jaringan sebagai pemicu aktif fibrosis organ.

  • Liu, F., Mih, J. D., Shea, B. S., et al. (2010). Feedback amplification of fibrosis through matrix stiffening and COX-2 suppression. Journal of Cell Biology, 190(4), 693–706.

Lingkaran setan stiffness–fibrosis–disfungsi organ.

0Shares

Griya Sehat QULBI

Spesialis Terapi Nyeri Bekasi

Tinggalkan Balasan