Terapi Skoliosis Bisa Sembuh Tanpa Operasi QULBI WA. 085692689993 – Pernah kepikiran nggak kak, kenapa banyak orang baru sadar skoliosis setelah bertahun-tahun ngerasa badannya cepat capek, pegal sebelah, atau posturnya makin aneh? Kenapa bukan dari awal saja kelihatan sakit?
Jawabannya sederhana tapi sering terlewat: skoliosis jarang lahir sebagai masalah tulang duluan. Ia lebih sering lahir sebagai masalah tegangan.
Di QULBI, tubuh dipandang seperti tenda hidup. Tulang itu tiang. Fascia itu tali. Kalau tali-tali ketarik timpang, tiang pasti ikut miring. Bukan karena tiangnya rusak, tapi karena tarikan nggak adil.
—
1. Skoliosis Bukan Satu Jenis
Secara medis, skoliosis dibagi berdasarkan penyebabnya:
- Idiopathic scoliosis (paling sering): penyebab pasti tidak diketahui, biasanya muncul saat masa pertumbuhan.
- Congenital scoliosis: kelainan bentuk tulang sejak lahir.
- Neuromuscular scoliosis: akibat gangguan saraf dan otot.
- Degenerative scoliosis: akibat proses aus dan adaptasi pada usia dewasa.
Namun di sisi lain, ada pembagian yang lebih fungsional:
- Skoliosis fungsional / postural → lengkungan dipengaruhi posisi, tegangan, dan kebiasaan.
- Skoliosis struktural → tulang sudah berubah bentuk dan rotasi menetap.
Ini penting: idiopatik bukan otomatis struktural. Banyak kasus idiopatik berawal dari fase fungsional yang lama diabaikan.
—
2. Pelvic Imbalance: Titik Awal yang Sering Diabaikan
Pelvis adalah fondasi. Kalau fondasi miring, lantai atas tinggal nunggu waktu.
Dalam praktik QULBI, pola yang paling sering ditemukan:
- Depan-Belakang: Anterior Pelvic Tilt (APT) – Posterior Pelvic Tilt (PPT) → sagital plane
- Naik-Turun: Left / Right Pelvic Tilt (LPT / RPT) → frontal plane
- Maju-Mundur: Left / Right Pelvic Rotation (LPR / RPR) → transverse plane
- Masuk-Keluar: Coccyx anterior atau posterior
Pola-pola ini bukan kerusakan struktur, tapi postural pattern — hasil adaptasi tegangan.
Bayangin berdiri di tanah miring bertahun-tahun. Apakah kaki bengkok duluan, atau tubuh yang menyesuaikan? Nah, pelvis bekerja seperti itu.
—
3. Dari Pelvic Imbalance ke Skoliosis
Prosesnya pelan, tapi konsisten:
- Pelvic imbalance menciptakan tensional imbalance.
- Fascia di satu sisi memendek, sisi lain memanjang.
- Tubuh melakukan kompensasi ke atas: lumbar → thorakal → servikal.
- Terbentuk kurva lateral + rotasi sebagai strategi bertahan.
- tulang belakang belum berubah bentuk
- lengkungan bisa berkurang saat posisi diperbaiki
- saat tiduran, tubuh bisa tampak lebih lurus
Inilah awal skoliosis fungsional atau postural scoliosis
📌 Penting:
Ini bukan jenis penyakit, tapi fase adaptasi tubuh.
Di fase ini, tubuh masih “negosiasi”.
Selama tegangan masih bisa dinegosiasi, struktur belum rusak.
—
4. Ketika Tegangan Menjadi Permanen
Masalah muncul saat:
- kompensasi berlangsung lama
- fase pertumbuhan cepat (remaja)
- nyeri diabaikan
tubuh terus “dipaksa lurus” tanpa merapikan tegangannya
Fascia yang kaku akan:
- menarik tulang secara asimetris
- memengaruhi pertumbuhan tulang
- menciptakan rotasi vertebra
Di titik ini, skoliosis masuk fase struktural.
Bukan karena salah duduk semalam. Tapi karena tarikan salah bertahun-tahun.
—
5. Mitos Dua Kurva pada Skoliosis
Masih sering terdengar anggapan:
“Kalau baru satu kurva, belum disebut skoliosis. Harus dua kurva dulu.”
Secara ilmiah, anggapan ini tidak tepat.
Skoliosis didefinisikan sebagai kelengkungan lateral tulang belakang ≥10° (Cobb angle), baik dengan satu kurva maupun lebih. Kurva kedua bukan syarat, melainkan mekanisme kompensasi tubuh.
Urutannya biasanya seperti ini:
- Awalnya muncul satu kurva utama akibat tensional imbalance.
- Tubuh ingin menjaga kepala tetap tegak dan pandangan lurus.
- Maka terbentuk kurva kompensasi di segmen lain.
Dari sudut pandang QULBI:
- Satu kurva = alarm awal ketidakseimbangan tegangan.
- Dua kurva = strategi bertahan tubuh, bukan tanda baru disebut skoliosis.
Menunggu dua kurva sebelum bertindak ibarat menunggu karpet berjamur sebelum memperbaiki genteng bocor.
—
6. Postural vs Structural (Supaya Nggak Ketukar)
Postural / Functional:
- Berubah saat posisi diubah
- Membaik saat pelvis diseimbangkan
- Tegangan masih adaptif
Structural:
- Tidak lurus walau posisi berubah
- Ada deformasi & rotasi tulang
- Adaptasi sudah menetap
FASCIA Hack bekerja paling optimal di fase postural dan transisi awal struktural.
—
6. Peran Brace dalam Skoliosis (Biotensegrity View)
Brace sering dipakai terutama pada idiopathic scoliosis remaja.
Dari sudut pandang biotensegrity:
- Brace mengatur posisi eksternal
- Bukan mengatur tegangan internal
Ibarat menahan pohon miring dengan kayu penyangga. Pohon bisa tampak lurus selama ditahan. Tapi akar? Belum tentu berubah.
Penelitian menunjukkan:
- Brace dapat memperlambat progresi
- Efek optimal jika dikombinasikan dengan terapi aktif
Tanpa kerja tegangan:
- risiko rebound setelah brace dilepas
- ketergantungan pasif
—
7. Posisi FASCIA Hack di Antara Semua Pendekatan
FASCIA Hack tidak menggantikan brace, tapi menjawab pertanyaan yang sering luput:
“Kenapa tubuh menarik ke arah itu?”
Dengan prinsip:
- Balancing → merapikan arah tegangan (postural correction berbasis tensi)
- Touching → mengurai adhesi fascia
- Moving → integrasi gerak tanpa merusak keseimbangan
Targetnya bukan memaksa lurus, melainkan mengembalikan keadilan tegangan.
—
8. Batasan yang Jujur
QULBI tidak menjanjikan:
- meluruskan skoliosis berat bawaan
- membalik deformitas tulang yang matang
Tapi QULBI realistis dan bermartabat:
- menghentikan progres
- mengurangi nyeri
- memperbaiki fungsi
- membantu struktur kembali sejauh jaringan masih hidup dan adaptif
—
9. Testimoni Kasus: Skoliosis Remaja 12 Tahun
Seorang anak perempuan usia 12 tahun datang dengan keluhan bahu tidak sejajar dan cepat lelah saat duduk lama. Dari pemeriksaan sebelumnya, dokter telah merekomendasikan penggunaan brace karena terlihat adanya lengkungan tulang belakang yang mengarah ke skoliosis idiopatik usia pertumbuhan.
Orang tuanya bercerita, setiap kali duduk di sekolah, tubuh anaknya sering miring tanpa sadar. Tidak mengeluh nyeri hebat, tapi “badannya capek terus”. Ini tipikal fase awal: belum sakit, tapi sistem sudah berjuang.
Pendekatan QULBI pada Sesi Pertama
Alih-alih memaksa tubuh lurus, sesi pertama difokuskan pada FASCIA Hack:
- Balancing untuk merapikan arah tegangan, terutama pada area pelvis dan thorakolumbal.
- Touching untuk mengurai kekakuan fascia yang mulai membentuk pola tarik asimetris.
- Moving ringan untuk mengintegrasikan keseimbangan baru tanpa menekan struktur.
Yang menarik, tidak ada manipulasi tulang agresif. Fokusnya murni pada sistem tegangan.
Respons Tubuh yang Terjadi
Setelah satu sesi terapi:
- postur duduk terlihat lebih simetris
- bahu tampak lebih sejajar
- napas terasa lebih lega
anak mengatakan badannya terasa “enteng” dan “nggak ketarik sebelah”
Orang tua memperhatikan perubahan kecil tapi nyata: anak bisa duduk lebih lama tanpa gelisah.
Ini bukan klaim “sembuh”, tapi tanda sistem masih sangat adaptif — ciri khas usia pertumbuhan.
Keputusan Terapi Lanjutan
Melihat respons awal yang baik, anak tersebut kemudian diarahkan mengambil Paket Gold (8 kali terapi) dengan tujuan:
- menjaga keseimbangan tegangan selama masa tumbuh cepat
- mencegah progres lengkungan
- mendukung fungsi brace (bila tetap digunakan) agar tidak menjadi pasif semata
Pendekatan ini dipilih sebagai pendamping brace, bukan pengganti, dengan prinsip: posisi ditopang, tegangan dirapikan.
Catatan Penting
Kasus ini menunjukkan bahwa pada skoliosis remaja:
- respons cepat sering muncul bila ditangani pada fase awal
- perubahan postur bisa terjadi tanpa memaksa struktur
- terapi berbasis tensional system dapat menjadi bagian penting dari penanganan konservatif
Setiap tubuh unik. Hasil bisa berbeda. Namun kisah ini menegaskan satu hal: semakin dini tegangan didamaikan, semakin besar peluang tubuh bertumbuh dengan seimbang.
—
Penutup
Skoliosis bukan sekadar lengkungan di rontgen. Ia adalah cerita panjang tentang tubuh yang berusaha bertahan.
Saat kita berhenti memusuhi lengkungannya, dan mulai mendengarkan tegangannya, tubuh sering memberi kejutan.
Pelan-pelan, postur berubah, napas lebih lega, nyeri mereda.
Karena saat tegangan berdamai, struktur tak perlu lagi berteriak. Yuk ikhtiar Terapi Skoliosis Bisa Sembuh Tanpa Operasi QULBI Kontak Whatsapp: 085692689993
Biidznillah.
—
Referensi :
- Influence of pelvic asymmetry and idiopathic scoliosis on postural balance
Studi ini menunjukkan bahwa asimetri pelvis berhubungan dengan gangguan keseimbangan postur dan skoliosis, terutama pada kasus fungsional.
PubMed – National Library of Medicine - Correlation between abnormal posture, physical activity, and suspected scoliosis
Penelitian yang menguatkan hubungan antara kebiasaan postur buruk, aktivitas fisik, dan munculnya pola skoliosis.
Journal of Orthopaedic Surgery and Research - Functional scoliosis vs structural scoliosis: What is the difference?
Artikel medis yang menjelaskan perbedaan skoliosis fungsional (postural) dan struktural, termasuk implikasi terapi.
Medical News Today - Pelvic, trunk, and upper limb biomechanics in spinal deformities
Review sistematis tentang perubahan biomekanik pelvis dan batang tubuh pada kondisi deformitas tulang belakang seperti skoliosis.
Journal of Orthopaedic Surgery and Research - Morphology and deformity of the shoulder and pelvis in adolescent idiopathic scoliosis
Studi radiologis yang menunjukkan keterkaitan deformitas pelvis, bahu, dan tulang belakang pada skoliosis idiopatik.
PubMed Central (PMC) - Vertebral rotation in functional scoliosis caused by limb-length inequality
Penelitian yang menjelaskan bagaimana ketidakseimbangan panjang tungkai dan rotasi pelvis dapat memicu skoliosis fungsional.
Journal of Clinical Medicine (MDPI) - Mengenal Skoliosis
Artikel edukasi kesehatan yang menjelaskan definisi, jenis, dan faktor risiko skoliosis dari sudut pandang klinis.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia - Syaifullah, E. QULBI Method: Solusi Nyeri Holistik. www.qulbi.com.
- Catatan QULBI
Referensi di atas tidak selalu menyebut istilah Fascia Hack, tapi secara ilmiah:
Menguatkan konsep postural pattern & pelvic imbalance
Mendukung pemisahan fungsional vs struktural
Selaras dengan pendekatan tensional balance, biotensegrity, dan kompensasi tubuh
