Fascia Journal – Ada satu kabar baik untuk dunia terapi, rehabilitasi, dan kedokteran di Indonesia:
para akademisi dan dokter kita akhirnya mulai benar-benar menyoroti fascia.
Selama bertahun-tahun, fascia hanya dianggap “bungkus otot”, sesuatu yang tidak penting dan tidak perlu dipelajari secara serius. Padahal kakak sendiri tahu kan—melalui pengalaman dan FASCIA Hack— fascia itu bukan sekadar pembungkus, tapi jaringan hidup, aktif, peka, dan memegang kendali besar pada nyeri, gerak, dan postur manusia.
Yang bikin makin menarik, pemahaman ini mulai muncul resmi dalam literatur ilmiah Indonesia. Salah satu publikasi paling kuat dan paling dekat dengan cara pandang QULBI adalah:
Scientific Journal – SCIENA Vol IV No. 2, 2025
“Peran Fascia dalam Integrasi Struktural Tubuh: Suatu Tinjauan Literatur Anatomi.”
Jurnal ini seperti membuka pintu besar bahwa Indonesia mulai memasuki “fase kebangkitan fascia”—dan isi jurnal ini luar biasa selaras dengan prinsip FASCIA Hack.
Mari masuk ke isinya, kak.
—
SCIENA 2025: Jurnal Indonesia Pertama yang Menggabungkan Fascia, Integrasi Struktural, dan Neurosains Tubuh
Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah menyusun tinjauan literatur fascia internasional 2016–2025, dan hasilnya menggemparkan:
- Fascia adalah sistem jaringan aktif.
Bukan “lapisan pembungkus” seperti yang diajarkan dalam anatomi klasik.
- Fascia menghubungkan semua bagian tubuh menjadi satu kesatuan.
Dari kulit → otot → tulang → organ → saraf.
- Fascia punya peran besar dalam transmisi gaya.
Gerakan tidak hanya lewat otot-tulang, tapi lewat jaring fascia 3D.
- Fascia kaya sensorik: proprioseptor & nosiseptor.
Makanya banyak nyeri kronis sebenarnya berasal dari fascia, bukan otot.
- Fascia membentuk tensegrity tubuh.
Tubuh bukan rangka + otot yang bekerja sendiri-sendiri, tapi sistem jaringan tarik-tekan yang harmonis.
- Teknik berbasis fascia efektif
Seperti pijat MFR, integrasi struktural, manipulasi jaringan lunak, dsb itu efektif secara klinis
- Dan yang paling penting:
Pendidikan medis Indonesia perlu mengajarkan fascia sebagai sistem, bukan sebagai “pembungkus otot”.
Kalau kakak baca, hampir setiap paragrafnya terdengar seperti:
“Ini dia! Ini yang dari dulu QULBI pahami lewat FASCIA Hack!”
SCIENA 2025 secara tidak langsung mengkonfirmasi pengalaman klinis QULBI selama ini.
—
Temuan SCIENA 2025 = Validasi Ilmiah Terkuat untuk FASCIA Hack
Apa yang SCIENA 2025 sebutkan?
✔️ fascia adalah jaringan aktif,
✔️ fascia adalah jalur transmisi gaya,
✔️ fascia mengatur propriosepsi,
✔️ disfungsi fascia = nyeri kronis,
✔️ intervensi berbasis fascia efektif secara klinis.
Dan apa itu FASCIA Hack?
Sebuah metode terapi fisik yang dibangun lebih awal daripada jurnal ini, namun memiliki inti yang sama persis.
FASCIA Hack = Balancing + Touching + Moving
SCIENA 2025 memvalidasi ketiganya:
—
A. BALANCING — Koreksi Struktur → Tensegrity
Jurnal SCIENA menyebut:
- fascia bekerja sebagai “jaringan distribusi gaya”,
- ketidakseimbangan satu sisi bisa memengaruhi seluruh tubuh,
- integrasi struktural bergantung pada keseimbangan tensigrity.
Ini sama persis dengan teknik Puntir Balik / Terapi PAZ di sesi Balancing yang QULBI lakukan pada structural imabalances seperti LPR, RPR, APT, Coccyx, dll.
—
B. TOUCHING — Myofascial Release, Decompression, Manual Work
SCIENA merangkum riset internasional:
- myofascial release meningkatkan mikrosirkulasi,
- manipulasi fascia memperbaiki elastisitas,
- terapi berbasis fascia mengurangi nyeri lebih efektif dari otot saja.
Ini menegaskan bahwa Touching di FASCIA Hack bukan sekadar pemijatan, tapi intervensi klinis berbasis mekanobiologi fascia.
—
C. MOVING — Gerak Integratif
SCIENA menyebut:
- fascia responsif terhadap gerakan berulang,
- glide fascia menentukan efisiensi gerak,
- gerakan memperbaiki viskoelastisitas fascia.
Ini sama dengan filosofi Moving di FASCIA Hack yang QULBI ajarkan:
“Gerakan adalah nutrisi fascia.”
—
Dan yang Membuatnya Lebih Menarik… Jurnal-Jurnal Fascia Indonesia Lain Mulai Menyusul
SCIENA 2025 bukan satu-satunya.
Ada gelombang kecil tapi nyata dari jurnal Indonesia yang memperkuat wacana fascia:
- Myofascial Release (Polanka)
Menunjukkan penurunan nyeri plantar fasciitis dengan MRT + MET.
- Ultrasound + Stretching (UM Surabaya)
Meningkatkan fleksibilitas fascia plantar.
- Foot Core Strengthening (Polanka)
Membuktikan fascia plantar butuh aktivasi dan integrasi gerak.
- Deep Myofascial Release (STIKES Jombang)
Mengurangi trigger point punggung secara signifikan.
- Rehabilitasi Fascia (IJSM)
Mengombinasikan ultrasound + theraband untuk perbaikan fungsi fascia.
—
Pola Besar: Fascia Merespons Sentuhan, Gerakan, dan Koreksi Struktur
Dari semua Fascia Journal di Indonesia tadi, muncul tiga pola besar:
1. Tekanan → Meningkatkan mikrosirkulasi
Fascia jadi hangat, lentur, dan menerima oxygenation lebih baik.
2. Pergerakan → Memulihkan glide
Lapisan fascia yang awalnya saling menempel mulai “meluncur” lagi.
3. Koreksi Struktur → Mencegah kekambuhan
Karena posisi pelvis, tulang belakang, dan alignment menentukan beban fascia.
Tapi masalahnya:
Mayoritas penelitian fascia di Indonesia hanya fokus ke bagian tubuh lokal, bukan satu sistem fascia penuh.
Nah… di sinilah FASCIA Hack masuk.
Ketika fascia disentuh dan digerakkan, tubuh langsung membaik.
Ini persis seperti pengalaman QULBI selama bertahun-tahun.
—
Artinya Apa?
“Indonesia mulai memasuki era fascia—dan QULBI bersyukur bisa ikut berada di jalur yang sama.”
Selama ini QULBI dan FASCIA Hack terasa seperti “berjalan sendirian”, karena belum banyak akademisi Indonesia yang benar-benar memahami fascia sebagai organ aktif.
Tapi sekarang pemandangannya berubah.
SCIENA 2025 jadi penanda:
- dokter Indonesia sudah mulai melek fascia,
- riset fascia mulai muncul di jurnal nasional,
- pemahaman integrasi struktural mulai masuk anatomi modern,
- fascia bukan lagi “pengisi ruang”, tapi sistem komunikasi mekanis tubuh.
Dengan kata lain:
“Pemahaman yang selama ini QULBI terapkan melalui FASCIA Hack ternyata sejalan dengan arah riset fascia terbaru di Indonesia. Rasanya seperti mendapat penguat ilmiah atas pengalaman klinis yang Allah Ta’ala izinkan kami lihat selama ini.”
—
FASCIA Hack: Solusi Holistik Indonesia yang Sesuai dengan Ilmu dan Sunnatullah Tubuh
Jika SCIENA 2025 adalah peta ilmu fascia…
maka FASCIA Hack adalah metode terapinya.
Bukan hanya cocok—tapi saling melengkapi.
✔️ BALANCING → Mengoreksi ‘imbalances’ panggul, keseimbangan tensegrity, dan pola kompensasi.
Inilah pondasi fascia sehat.
✔️ TOUCHING → Mengurai adhesi dan ketegangan fascia dengan: pijat myofascial release, dry needling, TENS, akupresur, cupping & fascia decompression
Semua ini terbukti efektif dalam berbagai riset nasional.
✔️ MOVING → mengaktifkan kembali glide & propriosepsi dengan gerakan integratif yang memulihkan elastic recoil fascia.
Semua ini adalah gambaran praktis dari apa yang SCIENA 2025 tekankan secara ilmiah.
Dan QULBI menjadikannya satu kesatuan utuh untuk:
- mengurangi nyeri,
- memperbaiki struktur,
- mengembalikan fungsi,
dan membangun gaya hidup yang memperbaiki fascia setiap hari melalui QULBI Habits.
—
Referensi :
A. Referensi Utama (Fokus Artikel)
Dewi, N. P., Vani, A. T., & Amelia, R.
Peran Fascia dalam Integrasi Struktural Tubuh: Suatu Tinjauan Literatur Anatomi.
Scientific Journal – SCIENA, Vol IV No 2, 2025.
https://journal.scientic.id/index.php/sciena/article/view/224
B. Referensi Pendukung (Jurnal Indonesia Lainnya)
(yang menguatkan tren minat fascia di Indonesia)
- Saputra A, Hartono D. Myofascial Release Technique dan MET untuk Plantar Fasciitis.
- Wibowo F, Maharani S. Ultrasound + Stretching pada Plantar Fascia.
- Fauziah N, Rahayu N. Foot Core Strengthening untuk Plantar Fascitis.
- Nurjanah I, Setiawan H. Ice Massage vs Latihan pada Plantar Fasciitis.
- Lestari R, Suwito A. Deep Myofascial Release untuk Trigger Point.
- Firmansyah A, Sutrisno D. Physical Rehabilitation Model for Plantar Fascitis.
C. Referensi Internasional (yang dirangkum dalam SCIENA 2025)
Adstrum (2019); Świątek (2023); Armstrong (2020); Fede (2025); Bordoni (2024);
Suarez-Rodriguez (2022); Slater (2024); Wilke (2018–2019); Brandl (2022–2023);
Pirri (2021); Kodama (2023); Fede (2018); Phan (2022); Sharkey (2021); Roch (2021).
D. Internal QULBI
- Syaifullah, E. (2025). QULBI Method: Solusi Nyeri Holistik. Griya Sehat QULBI. www.qulbi.com
